Jumat, 25 Juni 2021

kehancuran taurat musah

 Kitab Ulangan:


1:1. Inilah perkataan-perkataan yang diucapkan Musa kepada seluruh orang Israel di seberang sungai Yordan, di padang gurun, di Araba-Yordan, di tentangan Suf, antara Paran dengan Tofel, Laban, Hazerot dan Di-Zahab.
1:5 Di seberang sungai Yordan, di tanah Moab, mulailah Musa menguraikan hukum Taurat ini, katanya:

Redaksi di atas (Ulangan 1:5) sangat tegas menyiratkan bahwa Kitab Ulangan ditulis oleh orang yang tidak jelas identitasnya, dimana Musa konon menguraikan hukum Taurat-nya. Ini berarti, Kitab Ulangan bukanlah Kitab Suci Taurat yang diturunkan Allah kepada Nabi Musa.

Ayat-ayat Alkitab dan Al-Qur'an berikut memperjelas bukti bahwa lima kitab pertama dalam Alkitab tersebut sama sekali bukanlah Kitab Suci Taurat.

Kitab Keluaran:

31:18 Dan TUHAN memberikan kepada Musa, setelah Ia selesai berbicara dengan dia di gunung Sinai, kedua loh hukum Allah, loh batu, yang ditulisi oleh jari Allah.
34:28. Dan Musa ada di sana bersama-sama dengan TUHAN empat puluh hari empat puluh malam lamanya, tidak makan roti dan tidak minum air, dan ia menuliskan pada loh itu segala perkataan perjanjian, yakni Kesepuluh Firman.

Kitab Ulangan:

5:22 Firman itulah yang diucapkan TUHAN kepada seluruh jemaahmu dengan suara nyaring di gunung, dari tengah-tengah api, awan dan kegelapan, dan tidak ditambahkan-Nya apa-apa lagi. Ditulis-Nya semuanya pada dua loh batu, lalu diberikan-Nya kepadaku."

Kitab Raja-raja II:

22:8 Berkatalah imam besar Hilkia, kepada Safan, panitera itu: "Telah kutemukan kitab Taurat itu di rumah TUHAN! " Lalu Hilkia memberikan kitab itu kepada Safan, dan Safan terus membacanya.

Kitab Al-Qur'an:

7:145 Dan telah Kami tuliskan untuk Musa pada luh-luh (Taurat) segala sesuatu sebagai pelajaran dan penjelasan bagi segala sesuatu; maka (Kami berfirman): "Berpeganglah kepadanya dengan teguh dan suruhlah kaummu berpegang kepada (perintah-perintahnya) dengan sebaik-baiknya, nanti Aku akan memperlihatkan kepadamu negeri orang-orang yang fasik.
7:154 Sesudah amarah Musa menjadi reda, lalu diambilnya (kembali) luh-luh (Taurat) itu; dan dalam tulisannya terdapat petunjuk dan rahmat untuk orang-orang yang takut kepada Tuhannya.

Keterangan dari Alkitab dan Al-Qur'an di atas terlalu jelas, bahwa yang dimaksud dengan Kitab Suci Taurat bukanlah kitab-kitab seperti Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan, tetapi ia adalah sebuah kitab yang tunggal dan utuh yang semula ditulis Allah di atas kedua loh batu. Dalam hal ini, perlu ditegaskan bahwa Allah tidak pernah menjamin kemurnian Kitab Suci Taurat hingga akhir masa.

Lebih jauh, Nabi Yeremia, konon melalui suratnya, menyatakan bahwa lima kitab pertama dari Alkitab yang diklaim sebagai Taurat tersebut adalah Kitab Taurat yang bohong/palsu.

Kitab Yeremia:

8:8 Bagaimanakah kamu berani berkata: Kami bijaksana, dan kami mempunyai Taurat TUHAN? Sesungguhnya, [/B]pena palsu penyurat sudah membuatnya menjadi bohong. [/B]

Lalu, dimanakah Kitab Suci Taurat yang sesungguhnya? Keterangan dari Al-Qur'an berikut menegaskan bahwa Kitab Taurat yang asli/orisinal sudah hancur oleh tangan-tangan sekelompok orang-orang Bani Israel.

Kitab Al-Qur'an:

6:91. Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata: "Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia". Katakanlah: "Siapakah yang menurunkan kitab (Taurat) yang dibawa oleh Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu perlihatkan (sebagiannya) dan kamu sembunyikan sebagian besarnya, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang kamu dan bapak-bapak kamu tidak mengetahui (nya)?" Katakanlah: "Allah-lah (yang menurunkannya)", kemudian (sesudah kamu menyampaikan Al Qur'an kepada mereka), biarkanlah mereka bermain-main dalam kesesatannya.

Jadi, kitab-kitab seperti Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan, adalah kitab-kitab karangan orang-orang Bani Israel yang tidak jelas identitisnya. Kitab-kitab itu sama sekali bukanlah Kitab Suci Taurat, tetapi mereka adalah kitab-kitab yang antara lain berisi serpihan-serpihan dari Kitab Suci Taurat yang mungkin masih bisa diidentifikasi sebagai ayat-ayat dari Kitab Taurat yang sebenarnya. Sekali lagi, Allah tidak pernah menjamin kemurnian Kitab Suci Taurat hingga akhir masa, karenanya, bisa dimengerti kalau Kitab Suci Taurat yang dibawa dan diajarkan oleh Nabi Musa itu sudah hancur dan tidak bisa dikenali lagi sebagai sebuah kitab yang tunggal dan utuh.

Jumat, 18 Juni 2021

Ismail Di berkati

 9 Keturunan Ismael Menurut Alkitab yang Tidak Diketahui Umat Kristiani

Dari sekian banyak tokoh Alkitab, ada seorang tokoh Alkitab yang cukup menarik perhatian banyak orang Kristen. Ia adalah Ismael. Ismael dikenal sebagai anak Abraham dari Hagar. Hagar sendiri merupakan hamba Sara, istri Abraham. Hal yang menarik adalah keturunan Ismael dianggap sebagai keturunan Abraham beragama Islam ketika keturunan Ishak dianggap sebagai keturunan Abraham beragama Kristen. Ada beberapa kisah tentang keturunan Ismael menurut Alkitab.

Kejadian 16:3 Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, – yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan – , lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.

Sebelum mengetahui kehidupan Ismael, kita perlu mengetahui terlebih dahulu kehidupan keluarganya. Kita tentu sudah mengenal Abram yang kemudian dikenal sebagai Abraham, bapa segala bangsa. Abram memiliki seorang istri bernama Sarai. Namun, Sarai tidak kunjung mempunyai anak. Akhirnya, ia memberikan hambanya, Hagar, kepada Abram agar dapat memiliki keturunan.

Kejadian 16:4 Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu. Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu. Kejadian 16:6b Lalu Sarai menindas Hagar, sehingga ia lari meninggalkannya.

Kehidupan Ismael

Akhirnya, Hagar mengandung dan dapat memberikan keturunan bagi Abram. Merasa sudah mampu memberikan keturunan, Hagar malah memandang rendah Sarai, nyonyanya. Sarai tentu tidak senang dipandang rendah seperti itu oleh hambanya sendiri. Setelah berdiskusi dengan Abram, Sarai memilih untuk menindas Hagar. Sarai tidak dapat menahan rasa amarahnya, padahal seharusnya orang Kristen mampu menahannya seperti yang tertulis pada ayat Alkitab tentang amarah. Sepertinya apa yang dilakukan Sarai cukup buruk sehingga Hagar memilih untuk meninggalkan majikannya.

Kejadian 16:9 Lalu kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: “Kembalilah kepada nyonyamu, biarkanlah engkau ditindas di bawah kekuasaannya.” Kejadian 16:11-12 Selanjutnya kata Malaikat TUHAN itu kepadanya: “Engkau mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan akan menamainya Ismael, sebab TUHAN telah mendengar tentang penindasan atasmu itu. Seorang laki-laki yang lakunya seperti keledai liar, demikianlah nanti anak itu; tangannya akan melawan tiap-tiap orang dan tangan tiap-tiap orang akan melawan dia, dan di tempat kediamannya ia akan menentang semua saudaranya.”

Kehidupan Ismael dimulai ketika Hagar bertemu dengan Malaikat TUHAN di padang gurun. Kita bisa bayangkan betapa lelah dan tersiksanya Hagar dengan kandungannya melarikan diri, berada di padang gurun. Tentu saja, Hagar membutuhkan pertolongan. Di sanalah, Tuhan menyatakan bahwa Ia mendengarkan keluh kesah Hagar. Ia memberikan nama ‘Ismael’ yang artinya ‘Dia mendengar’ kepada anak di kandungan Hagar.

Selain itu, Tuhan juga memberikan janji yang baik bagi Ismael. Banyak orang salah mengerti tentang istilah ‘keledai liar’ sehingga istilah tersebut dianggap buruk. Padahal, yang dimasuk dengan ‘keledai liar’ adalah orang yang merdeka, tidak bergantung pada siapapun.

[Ayub 24:5 Sesungguhnya, seperti keledai liar di padang gurun mereka keluar untuk bekerja mencari apa-apa di padang belantara sebagai makanan bagi anak-anak mereka.]

Hagar percaya pada janji Allah. Ia memiliki iman yang sesuai dengan ayat Alkitab tentang kepercayaan. Dengan iman tersebut, Hagar akhirnya kembali kepada nyonyanya. Padahal ia tahu bahwa hidupnya tidak akan lagi biasa-biasa saja. Ia akan terus ditindas oleh Sarai. Namun, kehidupan Ismael pun akhirnya diberkati Allah sesuai janji-Nya.

Ismael lahir ketika Abram, ayahnya, berumur 86 tahun

[Kejadian 16:16 Abram berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hagar melahirkan Ismael baginya.]

Ismael diperhitungkan oleh Allah untuk tetap mendapat berkat-Nya

[Kejadian 17:20 Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.] [Kejadian 21:13 Tetapi keturunan dari hambamu itu juga akan Kubuat menjadi suatu bangsa, karena ia pun anakmu.]

Ismael ikut disunat, sesuai perintah Allah pada Abraham, pada umur 13 tahun

[Kejadian 17:25 Dan Ismael, anaknya, berumur tiga belas tahun ketika dikerat kulit khatannya.]

Ismael mengolok-olok Ishak sehingga Sara merasa terganggu

Padahal, kita tidak perlu merasa terganggu ketika mendapat penghinaan seperti yang tertulis pada ayat Alkitab tentang penghinaan.

[Kejadian 21:9 Pada waktu itu Sara melihat, bahwa anak yang dilahirkan Hagar, perempuan Mesir itu bagi Abraham, sedang main dengan Ishak, anaknya sendiri.] [Genesis 21:9 And Sarah saw the son of Hagar the Egyptian, which she had born unto Abraham, mocking]

Ismael dan juga Hagar kemudian diusir dari rumah Abraham

[Kejadian 21:10 Berkatalah Sara kepada Abraham: “Usirlah hamba perempuan itu beserta anaknya, sebab anak hamba ini tidak akan menjadi ahli waris bersama-sama dengan anakku Ishak.”]

[Kejadian 21:12 Tetapi Allah berfirman kepada Abraham: “Janganlah sebal hatimu karena hal anak dan budakmu itu; dalam segala yang dikatakan Sara kepadamu, haruslah engkau mendengarkannya, sebab yang akan disebut keturunanmu ialah yang berasal dari Ishak.]

Ismael menjadi seorang pemanah

[Kejadian 21:20 Allah menyertai anak itu, sehingga ia bertambah besar; ia menetap di padang gurun dan menjadi seorang pemanah.]

Ismael, bersama dengan Ishak, menguburkan Abraham

[Kejadian 25:9 Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia dalam gua Makhpela, di padang Efron bin Zohar, orang Het itu, padang yang letaknya di sebelah timur Mamre,]

Ismael meninggal pada usia 137 tahun

[Kejadian 25:17 Umur Ismael ialah seratus tiga puluh tujuh tahun. Sesudah itu ia meninggal. Ia mati dan dikumpulkan kepada kaum leluhurnya.]

Kehidupan Keturunan Ismael

Kitab Yobel 20:12-13 Dan Ishmael dan anak-anaknya, dan anak-anak Keturah dan anak-anak mereka, pergi bersama-sama dan berdiam mulai dari Paran hingga memasuki Babel, di semua negeri yang mengarah ke Timur ke arah padang gurun. Dan mereka ini bercampur-baur satu dengan yang lainnya, dan nama mereka disebut Arab, dan orang Ishmael.

Tidak hanya tentang Ismael, keturunan Ismael menurut Alkitab pun banyak dibahas. Pada Alkitab sendiri, tidak ada keterangan secara jelas bahwa Ismael memberikan garis keturunan Nabi Muhammad. Keterangan pada kitab Yobel lah yang membuat orang-orang memberikan kesimpulan tersebut. Pakar Islam pun, setelah berusaha menelusuri garis keturunan Nabi Muhammad, dikatakan sampai kepada Ismael. Berikut, kisah keturunan Ismael menurut Alkitab.

Sesuai yang dijanjikan Allah, Ismael memiliki 12 anak yang kemudian menjadi raja

[Kejadian 17:20 Tentang Ismael, Aku telah mendengarkan permintaanmu; ia akan Kuberkati, Kubuat beranak cucu dan sangat banyak; ia akan memperanakkan dua belas raja, dan Aku akan membuatnya menjadi bangsa yang besar.] [Kejadian 25:16 Itulah anak-anak Ismael, dan itulah nama-nama mereka, menurut kampung mereka dan menurut perkemahan mereka, dua belas orang raja, masing-masing dengan sukunya.]

Mahalat, anak Ismael, menjadi istri Esau sehingga Ismael merupakan mertua Esau, anak Ishak

Esau menyadari bahwa orang tuanya tidak suka ia memiliki istri orang Kanaan. Dengan rasa gelisah, Esau dengan cepat memilih untuk mengambil Mahalat menjadi istrinya. Kita, orang Kristen, seharusnya berhati-hati dalam bertindak, terutama ketika sedang gelisah. Kita harus mampu terlebih dahulu menenangkan diri seperti yang tertulis pada ayat Alkitab untuk menenangkan hati dan pikiran. Hal ini berarti keturunan Ismael dan keturunan Ishak tidak menjadi dua garis keturunan yang benar-benar terpisah. Nyatanya, ada garis campuran di antara mereka.

[Kejadian 28:9 Sebab itu ia pergi kepada Ismael dan mengambil Mahalat menjadi isterinya, di samping kedua isterinya yang telah ada. Mahalat adalah anak Ismael anak Abraham, adik Nebayot.]

Seorang keturunan Ismael merupakan orang yang lewat di antara saudara-saudara Yusuf dan akhirnya membeli Yusuf

[Kejadian 37:28 Ketika ada saudagar-saudagar Midian lewat, Yusuf diangkat ke atas dari dalam sumur itu, kemudian dijual kepada orang Ismael itu dengan harga dua puluh syikal perak Lalu Yusuf dibawa mereka ke Mesir.]

Keturunan Ismael menurut Alkitab dikenal sebagai gerombolan yang ikut menyerbu Israel pada zama Gideon

[Hakim-hakim 8:24 Selanjutnya kata Gideon kepada mereka: “Satu hal saja yang kuminta kepadamu: Baiklah kamu masing-masing memberikan anting-anting dari jarahannya.” – Karena musuh itu beranting-anting mas, sebab mereka orang Ismael.]

Amasa, keturunan Ismael, menggantikan Yoab untuk mengepalai tentara pada zaman Absalom

Hal ini membuktikan bahwa ada keturunan Ishak dan keturunan Ismael menurut Alkitab yang tidak berseteru.

[2 Samuel 17:25 Absalom telah mengangkat Amasa menggantikan Yoab untuk mengepalai tentara. Amasa adalah anak seorang yang bernama Yitra, seorang Ismael yang telah memperisteri Abigal binti Nahas, saudara perempuan Zeruya ibu Yoab.]

Obil, seorang keturunan Ismael menjadi orang-orang yang mengawasi unta-unta orang Israel

Hal ini berarti keturunan Ismael pun tetap hidup di antara orang-orang Israel.

[1 Tawarikh 27:30 Yang mengawasi unta-unta ialah Obil, orang Ismael; yang mengawasi keleda-keledai betina ialah Yehdeya, orang Meronot.]

Pemazmur menyatakan bahwa orang Ismael bergabung dengan musuh orang Israel

Meskipun sudah ada bukti bahwa keturunan Ismael pun ikut hadir dalam kehidupan keturunan Ishak, nyatanya, masih ada saja keturunan Ismael yang melawan orang Israel.

[Mazmur 83:7-9 Penghuni kemah-kemah Edom dan orang Ismael, Moab dan orang Hagar, Gebal dan Amon dan Amalek, Filistea beserta penduduk Tirus, juga Asyur telah bergabung dengan mereka, menjadi kaki tangan bani Lot. Sela]

Ada keturunan Ismael yang juga merupakan anggota jemaat

Seperti tertulis pada kitab Yobel, keturunan Ismael kemudian dikenal sebagai orang Arab. Pada kisah Pentakosta, ternyata orang Arab pun masuk dalam bagian jemaat yang datang. Ada orang Arab, keturunan Ismael, yang menerima tujuan karunia Roh Kudus. Ini membuat mereka menjadi bagian dari jemaat.

[Kisah Para Rasul 2:11 baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah”.]

Keturunan Ismael merupakan anak perhambaan

Pada Galatia 4:21-31, Paulus menyatakan perbedaan antara keturunan Ismael dan keturunan Ishak. Kita, orang Kristen, yang telah menerima janji keselamatan, menerima Roh Kudus merupakan keturunan Ishak. Sedangkan, keturunan Ismael dikatakan sebagai anak perhambaan.

[Galatia 4:24 Ini adalah suatu kiasan. Sebab kedua perempuan itu adalah dua ketentuan Allah: yang satu berasal dari gunung Sinai dan melahirkan anak-anak perhambaan, itulah Hagar – ]

Keturunan Ismael menurut Alkitab tidak sepenuhnya menjadi saudara berbeda iman dengan kita. Masih ada keturunan Ismael yang kemudian menjadi jemaat Kristen. Namun, yang terpenting adalah mereka pun masih saudara jauh kita sebagai orang Kristen. Oleh karena itu, hendaknya kita tetap mengasihi dan mendoakan mereka. Selain itu, kita tidak perlu menganggap diri kita minoritas.

Kamis, 17 Juni 2021

Mengambil Hikmah dari Kisah Nabi Adam As.

 Cerita – cerita para Nabi memiliki banyak sekali pelajaran yang bisa diambil oleh umat Islam saat ini. Termasuk juga kisah Nabi Adam alaihissalam, manusia pertama yang ada di muka bumi. Dengan mempelajari kisah para Nabi, maka kita akan lebih bisa memahami berbagai pertanyaan yang biasa muncul dalam kehidupan. Lalu bagaimana dengan kisah Nabi Adam alaihissalam?

Berikut ini adalah beberapa pelajaran dan hikmah yang bisa direnungkan dari kisah Nabi Adam alaihissalam.

1. Hendaknya manusia selalu memperhatikan perintah dan larangan Allah SWT

Pelajaran terpenting dalam kisah Nabi Adam adalah bahwa Allah SWT pada dasarnya memberikan kebebasan kepada manusia sebagai makhluknya dalam berbagai hal. Namun, kebebasan ini juga diiringi dengan batasan berupa larangan – larangan yang ditetapkan oleh Allah SWT.

Pada Nabi Adam alaihissalam, larangan tersebut adalah larangan untuk mendekati sebuah pohon tertentu. Selain pohon tersebut, maka Nabi Adam dan juga Hawa, isterinya, dibebaskan untuk memakan buah – buahan apa saja yang ada di surga.

2. Waspada terhadap hambatan dari Iblis dan para pengikutnya

Dalam surat Al-A’raf ayat 19, Allah menjelaskan mengenai perintah untuk tinggal di surga dan larangan yang ada. Kemudian di surat Thahaa ayat 117, Allah menjelaskan mengenai hambatan yang akan dihadapi oleh Nabi Adam dan isterinya, yaitu permusuhan dan godaan dari Iblis.

Dalam menggoda manusia, Iblis tidak hanya bekerja sendirian, dia memiliki banyak pembantu. Termasuk juga dari bangsa manusia. Adanya Iblis ini akan membuat manusia lupa diri dan terpedaya mengikuti jejak Iblis yang membangkang dari perintah Allah. Akan tetapi, godaan tersebut tidak akan berpengaruh kepada orang yang memegang teguh agama Allah.

3. Mengambil sikap yang tepat saat terjerumus ke dalam kemaksiatan

Kisah Nabi Adam dan Hawa pada dasarnya menjadi contoh bagi semua manusia, khususnya orang – orang yang beriman. Bahwa melakukan kesalahan dan berdosa adalah sesuatu yang pasti terjadi dan manusiawi. Namun, apa yang dilakukan setelah itu lah yang menjadi penting.

Ketika Adam dan Hawa menyadari bahwa mereka telah melakukan kesalahan, maka mereka langsung bergegas kembali dan mengakui kesalahan mereka serta memohon ampunan dari Allah SWT. Berbeda dengan Iblis yang justru meneruskan perbuatannya yang salah, bahkan mendebat Allah SWT serta menolak perintah-Nya.

4. Menyadari kalau pertolongan Allah selalu menaungi hamba-hambaNya

Pada dasarnya, Allah tidak pernah meninggalkan para hamba-Nya sekalipun. Penjagaan dan kasih sayang Allah senantiasa menaungi hamba – hamba-Nya, terkhusus kepada hamba yang beriman. Yaitu yang menjalankan perintah Allah, dan berjalan di atas ajaran-Nya. Kepada orang – orang ini, Allah akan senantian memberikan berkah dan rahmat.

Akan tetapi, jika orang tersebut menjauh dari kitabullah dan wahyu, serta hilang ketaatan serta ketaqwaan dalam diri orang tersebut, maka hilang juga keamanan dari Allah. Bahkan orang tersebut bisa jadi akan mendapatkan kesulitan, kelaparan, dan juga ketakutan.

5. Nabi Adam alaihissalam telah disiapkan menjadi penduduk bumi sejak awal penciptaannya

Terakhir, perlu disadari bahwa diturunkannya Nabi Adam dan Hawa ke bumi bukanlah disebabkan karena kesalahan Nabi Adam dan Hawa pada masa itu. Namun, memang sejak awal Nabi Adam dan isterinya sudah Allah persiapkan untuk tinggal di bumi dan menjadi khalifah di muka bumi. Hal ini tertulis dalam surat Al-baqarah ayat 30.

Keberadaan Nabi Adam dan Hawa di surga adalah sesuatu yang sifatnya sementara. Sekaligus sebagai bekal sebelum Nabi Adam dan isterinya turun ke bumi dan menjadi khalifah. Turunnya Nabi Adam dan Hawa ke bumi bukanlah suatu bentuk hukuman dari Allah atau kehinaan dan pengusiran dari surga. Sebaliknya, Allah menurunkan Nabi Adam dan isterinya ke bumi dengan disertai rahmat dan pertolongan Allah kepada mereka.

Rabu, 16 Juni 2021

Nabi Isa Di bersihkan Oleh Al Quran

 Keluarga Imran menjadi salah satu yang terpilih oleh Allah SWT. Sebagaimana Allah berfirman dalam Al Qur'an Surat Ali imran ayat 33:


إِنَّ اللَّهَ اصْطَفَىٰ آدَمَ وَنُوحًا وَآلَ إِبْرَاهِيمَ وَآلَ عِمْرَانَ عَلَى الْعَالَمِينَ


Arab-Latin: Innallāhaṣṭafā ādama wa nụḥaw wa āla ibrāhīma wa āla 'imrāna 'alal-'ālamīn


Artinya : Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga 'Imran melebihi segala umat

1. QS Ali Imran (3): 55   إِذْ قَالَ اللَّهُ يَا عِيسَىٰ إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ إِلَيَّ وَمُطَهِّرُكَ مِنَ الَّذِينَ كَفَرُوا وَجَاعِلُ الَّذِينَ اتَّبَعُوكَ فَوْقَ الَّذِينَ كَفَرُوا إِلَىٰ يَوْمِ الْقِيَامَةِ ۖ ثُمَّ إِلَيَّ مَرْجِعُكُمْ فَأَحْكُمُ بَيْنَكُمْ فِيمَا كُنْتُمْ فِيهِ تَخْتَلِفُونَ   Artinya: “(Ingatlah), ketika Allah berfirman: ‘Hai Isa, sesungguhnya Aku akan menyampaikan kamu kepada akhir ajalmu dan mengangkat kamu kepada-Ku serta membersihkan kamu dari orang-orang yang kafir, dan menjadikan orang-orang yang mengikuti kamu di atas orang-orang yang kafir hingga hari kiamat. Kemudian hanya kepada Akulah kembalimu, lalu Aku memutuskan diantaramu tentang hal-hal yang selalu kamu berselisih padanya".   2. QS An-Nisa' (4): 157-158   وَقَوْلِهِمْ إِنَّا قَتَلْنَا الْمَسِيحَ عِيسَى ابْنَ مَرْيَمَ رَسُولَ اللَّهِ وَمَا قَتَلُوهُ وَمَا صَلَبُوهُ وَلَٰكِنْ شُبِّهَ لَهُمْ ۚ وَإِنَّ الَّذِينَ اخْتَلَفُوا فِيهِ لَفِي شَكٍّ مِنْهُ ۚ مَا لَهُمْ بِهِ مِنْ عِلْمٍ إِلَّا اتِّبَاعَ الظَّنِّ ۚ وَمَا قَتَلُوهُ يَقِينًا. بَلْ رَفَعَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ ۚ وَكَانَ اللَّهُ عَزِيزًا حَكِيمًا   Artinya: “Dan karena ucapan mereka: ‘Sesungguhnya kami telah membunuh Al Masih, Isa putra Maryam, Rasul Allah’, padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh ialah) orang yang diserupakan dengan Isa bagi mereka. Sesungguhnya orang-orang yang berselisih paham tentang (pembunuhan) Isa, benar-benar dalam keragu-raguan tentang yang dibunuh itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang siapa yang dibunuh itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka, mereka tidak (pula) yakin bahwa yang mereka bunuh itu adalah Isa. Tetapi (yang sebenarnya), Allah telah mengangkat Isa kepada-Nya. Dan adalah Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”   3. QS An-Nisa' (4): 159   وَإِنْ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ إِلَّا لَيُؤْمِنَنَّ بِهِ قَبْلَ مَوْتِهِ ۖ وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يَكُونُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا   Artinya: “Tidak ada seorangpun dari Ahli Kitab, kecuali akan beriman kepadanya (Isa) sebelum kematiannya. Dan di hari kiamat nanti Isa itu akan menjadi saksi terhadap mereka.”   4. QS Al-Maidah (5): 117   مَا قُلْتُ لَهُمْ إِلَّا مَا أَمَرْتَنِي بِهِ أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ ۚ وَكُنْتُ عَلَيْهِمْ شَهِيدًا مَا دُمْتُ فِيهِمْ ۖ فَلَمَّا تَوَفَّيْتَنِي كُنْتَ أَنْتَ الرَّقِيبَ عَلَيْهِمْ ۚ وَأَنْتَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ   Artinya: “Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku (mengatakan)nya yaitu: "Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu", dan adalah aku menjadi saksi terhadap mereka, selama aku berada di antara mereka. Maka setelah Engkau wafatkan aku, Engkau-lah yang mengawasi mereka. Dan Engkau adalah Maha Menyaksikan atas segala sesuatu.”   5. QS Az-Zukhruf (43): 61   وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ ۚ هَٰذَا صِرَاطٌ مُسْتَقِيمٌ   Artinya: “Artinya: "Dan sungguh, dia (Isa) benar-benar menjadi pertanda akan datangnya kiamat. Karena itu, janganlah kamu ragu-ragu tentang (kiamat) itu dan ikutilah Aku. Inilah jalan yang lurus.”   Berikut ini sebagian tafsir tentang Ali Imran (3): 55, riwayat Ibn Abbas dan Hasan al-Bashri:    وأخرج إسحاق بن بشر، وابن عساكر، من طريق جويبر، عن الضحاك، عن ابن عباس في قوله (إِنِّي مُتَوَفِّيكَ وَرَافِعُكَ)، يعنى: رافعك ثم متوفيك في آخر الزمان   Ayat innî mutawaffîka wa râfi‘uka bermakna "mengangkatmu, dan mewafatkanmu di akhir zaman." (Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi, Tafsir ad-Durrul Mantsur fit Tafsir bil Ma'tsur, juz 3, halaman 598)    وقد ثبت الدليل أنه حي، وورد الخبر عن النبي"أنه سينزل ويقتل الدجال" ثم إنه يتوفاه بعد ذلك   "Sungguh telah tetap dalil bahwa sesungguhnya beliau (Nabi Isa Ibn Maryam) itu hidup. Ada suatu khabar yang telah sampai dari Nabi Muhammad, ‘Sesungguhnya ia Nabi Isa itu akan turun (ke bumi), dan membunuh dajjal’. Kemudian, sesungguhnya Allah akan mewafatkan Nabi Isa setelah itu.” (Syekh Fakhruddin ar-Razy, Tafsir al-Kabir/Mafatih al-Ghayb, juz 8, halaman, 74-78)   وأخرج ابن جرير، وابن أبى حاتم، من وجه آخر، عن الحسن فى قوله: (إني متوفيك): يعنى وفاة المنام، رفعه الله فى منامه. قال الحسن: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم لليهود: إن عيسى لم يمت، وإنه راجع إليكم قبل يوم القيامة   "Maksudnya adalah kewafatan tidur, Allah membangkitkan Isa dalam tidur beliau. Imam Al-Hasan (al-Bashri, seorang ulama generasi tabi'in) berkata: Rasulullah bersabda kepada orang Yahudi: "Sesungguhnya Isa itu belum meninggal dunia, sesungguhnya beliau akan kembali kepada kalian sebelum hari kiamat."   (Al-Imam Al-Hafidz Jalaluddin As-Suyuthi, Tafsir Ad-Durrul Mantsur, juz 3, halaman 596)   Berikut ini tafsir Al-Maidah (5): 117 dari sejumlah ulama   وكنت عليهم شهيدا مادمت فيهم فلما توفيتني كنت انت الرقيب عليهم   Dr. Muhammad Hasan al-Hamshi dalam Al-Qur'an Karim Tafsir wa Bayan menafsiri "tawaffaytani" itu dengan:   اخذتني إليك وافيا برفعي إلى السماء حيا   "Engkau mengambilku kepada-Mu, secara sempurna, dengan mengangkatku ke langit dalam keadaan hidup."   Syekh Nawawi al-Bantani dalam Tafsir Munir menafsirkannya dengan:   رفعتني من بينهم إلى السماء   "Engkau mengangkatku dari antara mereka, ke langit."   Syekh Al-Wahidy dalam Tafsir Al-Wajiz menafsirkannya dengan:   قبضتني ورفعتني إليك أي إلى السماء   "Engkau mengambilku, dan mengangkatku kepada-Mu, maksudnya ke langit."   Kedua ulama tafsir ini menyatakan bahwa konteks ayat tersebut adalah firman Allah di hari kiamat.   Berikut ini penafsiran Ibn Abbas dan para ulama tentang Az-Zukhruf ayat 61:   Ketika menafsiri kalimat “la ‘ilmun lis sâ‘ah", Dr. Muhammad Hasan menyatakan:   علامة واضحة يعلم بها قرب الساعة   "Sesungguhnya Isa 'alaihis salam itu sebagai pertanda yang jelas, yang dengan pertanda itu akan diketahui dekatnya hari kiamat."   Syekh Nawawi juga menjelaskan tentang ayat itu   وإن عيسى لشرط من اشراط الساعة. والمعنى وإن نزول عيسى من السماء علامة على قرب الساعة   "Sesungguhnya Isa itu sungguh sebagai pertanda dari sebagian tanda-tanda kiamat. Dengan demikian maknanya adalah bahwa sesungguhnya turunnya Isa dari langit itu sebagai pertanda atas dekatnya hari kiamat."   Apakah contoh dari dua tafsir ini sesuai dengan tafsiran para ulama salaf, terutama generasi sahabat? Ternyata cocok.   1. Ibnu Abbas   قال: خروج عيسى عليه السلام قبل يوم القيامة   "Keluarnya Isa alaih salam, sebelum hari kiamat.”   Tafsir dari Ibn Abbas ini antara lain disebutkan oleh Imam Ibn Jarir at-Thabari, Imam at-Thabarany, dan Al-Haitsami.   2. Hasan Bashri     قال: نزول عيسى   "Turunnya Isa."   3. Qatadah   قال: نزول عيسى عليه السلام علم للساعة   "Turunnya Isa adalah pertanda kiamat."   Tegasnya, Ibn Katsir dalam "Tafsir Al-Quran al-Adzim", jilid 7 halaman 236 menyatakan sebagai berikut:   وهكذا روي عن ابي هريرة وابن عباس، وأبى العالية، وأبى مالك، وعكرمة، والحسن، وقتادة، والضحاك، وغيرهم   “Demikianlah (bahwa 'âyatun lis-sâ‘ah' itu adalah dengan keluarnya Isa Ibn Maryam sebelum hari kiamat) diriwayatkan dari Abi Hurairah, Abdullah ibn Abbas, Abi al-'Aliyah, Abi Malik, 'Ikrimah, Al-Hasan al-Bashri, Qatadah, ad-Dhahak, dan selainnya.   Lebih lanjut Ibn Katsir menyatakan,   وقد تواترت الأحاديث عن رسول الله صلى الله عليه وسلم، أنه أخبر بنزول عيسى ابن مريم عليه السلام، قبل يوم القيامة اماما عادلا، وحكما مقسطا   "Sungguh telah mutawatir hadits-hadits dari Rasulullah Muhammad bahwa beliau sungguh mengabarkan tentang turunnya Isa Ibn Maryam sebelum hari kiamat sebagai imam yang adil dan hakim yang adil."  

Yuk, install NU Online Super App versi Android (s.id/nuonline) dan versi iOS (s.id/nuonline_ios). Akses dengan mudah fitur Al-Qur'an, Yasin & Tahlil, Jadwal Shalat, Kompas Kiblat, Wirid, Ziarah, Ensiklopedia NU, Maulid, Khutbah, Doa, dan lain-lain.

Tidak ada yang dapat hidup melihat Tuhan

 Yohanes 5

(37) Bapa yang mengutus Aku, Dialah yang bersaksi tentang Aku. Kamu tidak pernah mendengar suara-Nya, rupa-Nyapun tidak pernah kamu lihat,

Keluaran 33
(20) Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup."

MUSA INGIN MELIHAT TUHAN DI DALAM ALKITAB

Exodus, Keluaran 33

לג:כ וַיֹּ֕אמֶר לֹ֥א תוּכַ֖ל לִרְאֹ֣ת אֶת־פָּנָ֑י כִּ֛י לֹֽא־יִרְאַ֥נִי הָֽאָדָ֖ם וָחָֽי׃
33:(20) Lagi firman-Nya: "Engkau tidak tahan memandang wajah-Ku, sebab tidak ada orang yang memandang Aku dapat hidup."

לג:כא וַיֹּ֣אמֶר יְהוָ֔ה הִנֵּ֥ה מָק֖וֹם אִתִּ֑י וְנִצַּבְתָּ֖ עַל־הַצּֽוּר׃
33:(21) Berfirmanlah TUHAN: "Ada suatu tempat dekat-Ku, di mana engkau dapat berdiri di atas gunung batu;

לג:כב וְהָיָה֙ בַּֽעֲבֹ֣ר כְּבֹדִ֔י וְשַׂמְתִּ֖יךָ בְּנִקְרַ֣ת הַצּ֑וּר וְשַׂכֹּתִ֥י כַפִּ֛י עָלֶ֖יךָ עַד־עָבְרִֽי׃
33:(22) apabila kemuliaan-Ku lewat, maka Aku akan menempatkan engkau dalam lekuk gunung itu dan Aku akan menudungi engkau dengan tangan-Ku, sampai Aku berjalan lewat.

לג:כג וַהֲסִֽרֹתִי֙ אֶת־כַּפִּ֔י וְרָאִ֖יתָ אֶת־אֲחֹרָ֑י וּפָנַ֖י לֹ֥א יֵֽרָאֽוּ׃ {פ}
33:(23) Kemudian Aku akan menarik tangan-Ku dan engkau akan melihat belakang-Ku, tetapi wajah-Ku tidak akan kelihatan."

Sedangkan Ayat seperti ini juga ada di Al Qur'an

Verse 143 of chapter 7. الأعراف
وَلَمّا جاءَ موسىٰ لِميقٰتِنا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قالَ رَبِّ أَرِنى أَنظُر إِلَيكَ ۚ قالَ لَن تَرىٰنى وَلٰكِنِ انظُر إِلَى الجَبَلِ فَإِنِ استَقَرَّ مَكانَهُ فَسَوفَ تَرىٰنى ۚ فَلَمّا تَجَلّىٰ رَبُّهُ لِلجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ موسىٰ صَعِقًا ۚ فَلَمّا أَفاقَ قالَ سُبحٰنَكَ تُبتُ إِلَيكَ وَأَنا۠ أَوَّلُ المُؤمِنينَ
Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar aku dapat melihat kepada Engkau".
Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku".
Tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan.
Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang yang pertama-tama beriman".

DAN DAPAT DISIMPULKAN, TUHAN YANG SESUNGGUHNYA ADALAH TUHAN YANG TIDAK DAPAT DILIHAT DAN TIDAK ADA MANUSIA YANG MAMPU MELIHATNYA.

Senin, 14 Juni 2021

Ismail atau Ishak yg Dikurbankan

 KISAH pengorbanan Ishak atas perintah Allah kepada Abraham (Ibrahim) tercatat dengan jelas dalam Kitab Kejadian, (Alkitab) 22:1-3.

(1) Setelah semuanya itu Allah mencoba Abraham. Ia berfirman kepadanya: "Abraham," lalu sahutnya: "Ya, Tuhan."
(2) Firman-Nya: "Ambillah anakmu yang tunggal itu, yang engkau kasihi, yakni Ishak, pergilah ke tanah Moria dan persembahkanlah dia di sana sebagai korban bakaran pada salah satu gunung yang akan Kukatakan kepadamu."
(3) Keesokan harinya pagi-pagi bangunlah Abraham, ia memasang pelana keledainya dan memanggil dua orang bujangnya beserta Ishak, anaknya; ia membelah juga kayu untuk korban bakaran itu, lalu berangkatlah ia dan pergi ke tempat yang dikatakan Allah kepadanya.
Atas dasar ayat inilah umat Kristen meyakini bahwa anak yang akan dikurbankan oleh Abraham adalah Ishak dan bukan Ismail sebagaimana kepercayaan Umat Islam di seluruh dunia.
Dalam kitab Kejadian 22:2 di atas, Allah memerintahkan kepada Abraham mengambil anak Tunggalnya, Ishak, untuk dipersembahkan.
Pertanyaannya sekarang adalah apakah Ishak adalah anak Tunggal Abraham?
Abraham memiliki anak yang bernama Ismail yang usianya 14 tahun lebih tua dari Ishak. Kejadian 16:16. Abram (Abraham) berumur delapan puluh enam tahun, ketika Hajar melahirkan Ismael baginya. Kejadian 21:5. (Kisah Hagar dan Ismael dapat dibaca pada Kejadian 16:1-16).
Adapun Abraham berumur seratus tahun, ketika Ishak, anaknya, lahir baginya. (Kisah kelahiran Ishak dapat dibaca pada Kejadian 21:1-7).
Berdasarkan ayat ini, Ishak tidaklah dapat dikatakan sebagai putra tunggal. Bahkan, justru Ismail, kakak Ishaklah yang menyandang gelar anak Tunggal selama 14 tahun.
Pertanyaan selanjutnya adalah apakah Ishak pernah menyandang anak Tunggal Abraham? Sampai wafatnya Abraham, baik Ishak maupun Ismail masih hidup. Kejadian 25:7 - 10. (7) Abraham mencapai umur seratus tujuh puluh lima tahun, (8) lalu ia meninggal.
Ia mati pada waktu telah putih rambutnya, tua dan suntuk umur, maka ia dikumpulkan kepada kaum leluhurnya. (9) Dan anak-anaknya, Ishak dan Ismael, menguburkan dia dalam gua Makhpela, di padang Efron bin Zohar, orang Het itu, padang yang letaknya di sebelah timur Mamre, (10) yang telah dibeli Abraham dari bani Het; di sanalah terkubur Abraham dan Sara isterinya.
Lalu, jika Alkitab menyebutkan bahwa Ishak adalah anak Tunggal karena Ismael bukanlah anak Abraham sesungguhnya karena ia lahir dari Budak Mesir, inilah kata Alkitab. Kejadian 16:1-4.
(1) Adapun Sarai, isteri Abram itu, tidak beranak. Ia mempunyai seorang hamba perempuan, orang Mesir, Hagar namanya.
(2) Berkatalah Sarai kepada Abram: "Engkau tahu, TUHAN tidak memberi aku melahirkan anak. Karena itu baiklah hampiri hambaku itu; mungkin oleh dialah aku dapat memperoleh seorang anak." Dan Abram mendengarkan perkataan Sarai. (3) Jadi Sarai, isteri Abram itu, mengambil Hagar, hambanya, orang Mesir itu, --yakni ketika Abram telah sepuluh tahun tinggal di tanah Kanaan--,lalu memberikannya kepada Abram, suaminya, untuk menjadi isterinya.
(4) Abram menghampiri Hagar, lalu mengandunglah perempuan itu.
Ketika Hagar tahu, bahwa ia mengandung, maka ia memandang rendah akan nyonyanya itu.Abraham mempunyai dua orang anak berdasarkan I Tawwarikh 1:28. (28) Anak-anak Abraham ialah Ishak dan Ismael.
Jadi menurut Alkitab, Hagar adalah istri sah Abraham, dan Ismail adalah anak sah Abraham.
Akan tetapi para Theolog Alkitab mengklaim bahwa satu-satunya anak Tunggal yang dimaksud dalam Alkitab adalah hanya Ishak, karena Ishak adalah anak perjanjian (Kejadian 17 : 19), yang disebut keturunan yang berasal dari Ishak (Kejadian 21:12) dan ahli waris tunggal Abraham adalah Ishak (Kejadian 21: 10).

Kronologis tentang Ismail dan Ishak dalam Alkitab, menunjukkan bahwa ayat yang bercerita tentang peristiwa pengorbanan (Kejadian: 22:1-19), letaknya setelah ayat yang berkisah tentang kelahiran Ishak (Kejadian 21:1-7).


===============

VERSI AL QURAN
Peristiwa pengurbanan ini diceritakan juga dalam Al Quran dalam versi yang sangat singkat, dan tanpa menyebut secara jelas nama anak yang akan dikurbankan oleh Ibrahim.
Akibatnya, kritikus Al Quran menganggap bahwa Al Quran sebenarnya juga ragu-ragu untuk menyebut siapa sebenarnya yang dikurbankan, apakah Ishak atau Ismail.
Di lain pihak, Alkitab secara jelas menyebutkan putra Tunggal yang akan dikurbankan. Mari kita simak ayat-ayat Al Quran yang bercerita tentang kisah perintah Allah kepada Ibrahim versi Al Quran sebagai berikut dalam Surah Ash Shaffat ayat 100 - 111.
(100) "Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang saleh".
(101) Maka Kami beri dia kabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar.
(102) Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahimberkata: "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang sabar".
(103) Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya).
(104) Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,
(105) susungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang berbuat baik.
(106) Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
(107) Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.
(108) Kami abadikan Ibrahim itu (pujian yang baik) di kalangan orang-orang yang yang dating kemudian.
(109) (yaitu) "Kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim".
(111) Sesungguhnya ia termasuk hamba-hamba Kami yang beriman.
Perhatikanlah kutipan ayat-ayat di atas, memang tak satu pun menyebutkan nama Ismail sebagai anak yang akan dikurbankan. Akan tetapi tanpa penyebutan nama Ismail, seseorang juga tak dapat mengklaim bahwa yang dimaksud dengan ayat tersebut di atas adalah Ishak.
Akan tetapi ternyata bahwa kisah di atas masih berlanjut ke ayat berikutnya. Ash Shaffat : 112. Dan Kami beri dia kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, seorang nabi yang termasuk orang-orang saleh.
Setelah peristiwa perintah pengurbanan, Ibrahim diberi kabar gembira dengan kelahiran seorang anak yang saleh dan termasuk salah seorang Nabi Allah, yaitu Ishak. Oleh karena Ibrahim hanya memiliki dua anak, maka tentu anak yang dimaksud dalam ayat di atas adalah Ismail, dan bukan Ishak yang baru lahir setelah peristiwa perintah pengurbanan.

Islam Terpatuh
Terlepas dari siapa yang hendak dikorbankan, apakah Ismail atau Ishak, sebaiknya, kita pemeluk-pemeluk agama samawi (Yahudi, Nasrani/Kristen, Islam) bersama-sama mengikuti dan menjalankan tradisi atau syariat ini.
Sebab selama ini yang paling aktif melaksanakan perintah kurban ini adalah orang Islam. Padahal tradisi ini telah ada sejak nabi Adam, ketika dua orng putra nabi Adam yaitu Qabil (Kain) dan Habil (Habel) mempersembahkan kurbannya kepada Allah dan salah satu kurban dari mereka ditolak. (Kitab Kejadian 4 : 3-8 dan QS. Al Maedah 27-31).



Minggu, 13 Juni 2021

Larangan Memikirkan Apa Dan Bagaimana Allah SWT

 Penjelasan No 1 Larangan dalam memikirkan Dzat ALLAH SWT

Allah SWT berfirman, yang artinya, “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): ‘Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan Ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, Maka peliharalah kami dari siksa neraka.'” (Ali ‘Imran: 191).

“Katakanlah, ‘Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi. tidaklah bermanfaat tanda kekuasaan Allah dan rasul-rasul yang memberi peringatan bagi orang-orang yang tidak beriman.'” (Yunus: 101).

“Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya tanpa hikmah. yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, Maka celakalah orang-orang kafir itu Karena mereka akan masuk neraka.” (Shaad: 27).

Rasulullah saw. juga bersabda yang artinya, “Berfikirlah tentang nikmat-nikmat Allah, dan jangan sekali-kali engkau berfikir tentang Dzat Allah.” (Hasan, Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahaadiits ash-Shahiihah [1788]).

Diriwayatkan dari Fudhalah bin Ubaid r.a., dari Rasulullah saw., beliau bersabda: “Tiga jenis orang yang tidak perlu engkau tanyakan lagi nasibnya; orang yang memisahkan diri dari jama’ah, ia mendurhakai imam dan mati dalam keadaan durhaka. Budak wanita atau pria yang melarikan diri dari tuannya, lalu mati. Dan seorang wanita yang ditinggal oleh suaminya dengan memberi perbekalan yang cukup, lalu sepeninggal suaminya ia bersolek (untuk lelaki lain).” Tiga jenis orang yang tidak perlu engkau tanyakan lagi nasibnya; Orang yang merampas selendang Allah, sesungguhnya selendang Allah adalah kesombongan-Nya, sarung-Nya adalah kemuliaan. Orang yang ragu tentang Allah. Dan orang yang berputus asa terhadap rahmat Allah.” (Shahih, HR Bukhari dalam al-Adabul Mufrad [590], Ahmad [IV/19], Ibnu Hibban [4559], Ibnu Abi ‘Ashim dalam as-Sunnah [89], dan al-Bazzar [84]).

Diriwayatkan dari Aisyah r.a. bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Sesungguhnya syaitan mendatangi salah seorang dari kamu, lalu mengatakan, ‘Siapakah yang telah menciptakanmu?’ ‘Allah!’ jawabnya. Lalu syaitan bertanya lagi: ‘Lalu siapakah yang menciptakan Allah?’ Jika kalian menghadapi hal seperti ini, maka hendaklah ia mengucapkan, ‘Aku beriman kepada Allah dan Rasul-rasul-Nya.’ Sesungguhnya, ucapan itu dapat menghilangkan waswas syaitan itu.” (Shahih, HR Ahmad [VI/258] dan Ibnu Hibban dalam al-Mawarid [41])

Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a., dari Rasulullah saw., beliau bersabda, “Sesungguhnya syaitan mendatangi salah seorang dari kamu, lalu berkata, ‘Siapakah yang telah menciptakan ini? Siapakah yang telah menciptakan itu?’ Hingga syaitan berkata kepadanya: ‘Siapakah yang menciptakan Rabb-mu?’ Jika sudah sampai demikian, maka hendaklah ia berlindung kepada Allah dengan mengucapkan isti’adzah dan berhenti.” (HR Bukhari [3276] dan Muslim [134]).

Dari jalur lain diriwayatkan dengan lafazh. “Hampir tiba masanya orang-orang saling bertanya sesama mereka. Sehingga ada yang bertanya, ‘Allah telah menciptakan ini dan itu, lalu siapakah yang menciptakan Allah?’ Jika mereka mengatakan seperti itu, maka bacakanlah, ‘Katakanlah: ‘Dialah Allah, Yang Mahaesa.’ Allah adalah Ilah yang bergantung kepada-Nya segala urusan. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia.’ (Al-Ikhlas: 1-4). Kemudian, hendaklah ia meludah ke kiri sebanyak tiga kali, lalu berlindung kepada Allah dari gangguan syaitan dengan mengucapkan isti’adzah.” (HR Abu Dawud [4732], An-Nasa’i dalam ‘Amalul Yaum wal Lailah [460], Abu Awanah [I/81-82], Ibnu Abdil Barr dalam at-Tamhiid [VII/146]).

Diriwayatkan dari Anas bin Malik r.a., ia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Allah SWT berfirman, ‘Sesungguhnya ummatku akan terus-menerus bertanya apa ini, apa itu?’ Hingga mereka bertanya, ‘Allah telah menciptakan ini dan itu lalu siapakah yang menciptakan Allah'” (HR Muslim [136]).

Dalam riwayat lain ditambahkan, “Pada saat seperti itu mereka tersesat.” (Shahih, HR Ibnu Abi Ashim dalam as-Sunnah [647]).

Kandungan Bab:

1.   Allah SWT. telah menganjurkan dalam Kitab-Nya agar berfikir dan bertadabbur. Anjuran ini ada dua macam.

Pertama, anjuran mentadabburi ayat-ayat Al-Qur’an dan ayat-ayat-Nya yang dapat disimak. Agar seorang hamba dapat memahami maksud Allah swt dan dapat meyakini kehebatan atau Al-Qur’an sebagai Kalamullah dan mukjizat yang tidak ada kebathilan di dalamnya, dari depan maupun dari belakang. Sebagaimana yang Allah SWT firmankan, “Maka apakah mereka tidak memperhatikan al-Qur-an? kalau kiranya al-Qur-an itu bukan dari sisi Allah, tentulah mereka mendapat pertentangan yang banyak di dalamnya.” (An-Nisaa’: 82).

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan Al-Qur’an ataukah hati mereka terkunci?” (Muhammad: 24).

Kedua, anjuran memikirkan keagungan ciptaan Allah, kerajaan dan kekuasaan-Nya, serta ayat-ayat yang dapat disaksikan, agar seorang hamba dapat merasakan keagungan al-Khaliq, dapat mengakui Al-Qur’an. Sebagaimana yang Allah SWT. firmankan, “Katakanlah, ‘Perhatikanlah apa yang ada di langit dan di bumi.'” (Yunus: 101).

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelas bagi mereka, bahwa Al-Qur’an itu benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu), bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu.” (Fushshilat: 53).

2.   Memikirkan tanda-tanda kebesaran Allah swt yang dapat disaksikan dan mentadabburi ayat-ayat Allah yang dapat disimak tidaklah dibatasi dengan keadaan atau waktu tertentu seperti yang dibuat-buat oleh kaum sufi atau ahli kalam, dengan menggunakan istilah renungan pemikiran dan lainnya, dalilnya adalah firman Allah SWT, “(Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Rabb kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka.” (Ali ‘Imran: 191). 

3.   Dzat Allah tidak akan bisa terjangkau oleh akal pikiran dan tidak akan bisa dikira-kirakan. Allah SWT. berfirman, “Sedangkan ilmu mereka tidak dapat meliputi ilmu-Nya.” (Thaahaa: 110). Karena Dzat Allah Mahaagung dan Mahatinggi dari kandungan permisalan dan qiyas.

“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang penglihatan itu.” (Al-An’aam: 103).

Dan bagi al-Khaliq, tidak ada penyerupaan, tandingan dan juga permisalan, “Dan tidak ada sesuatu pun yang setara dengan Dia.” (Al-Ikhlash: 4). Oleh sebab itulah melalui lisan Rasul-Nya, Allah Yang Mahabijaksana melarang berfikir tentang Dzat-Nya Yang Mahasuci. 

4.   Berfikir tentang Dzat Allah akan menggiring pelakunya kepada keragu-raguan tentang Allah. Dan siapa saja yang ragu tentang Allah, pasti binasa. Sebab ia akan dicecar oleh pertanyaan-pertanyaan membingungkan yang lahir dari permikiran sesat, “Allah menciptakan ini dan itu lalu siapakah yang menciptakan Allah?” Pertanyaan itu pada hakikatnya sangat kontradiktif dan kabur maksudnya. Sebab Allah adalah Pencipta bukan makhluk! Allah SWT berfirman, “Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan.” (Al-Ikhlash: 3).

Penyatuan dan perkara yang saling kontradiktif adalah sebuah kekeliruan, bahkan sebuah kemustahilan dan ketidakmungkinan. Karena kesamaran itulah, syaitan menerobos masuk ke dalam hati manusia sehingga mereka ragu tentang Allah. Pertanyaan itu pada hakikatnya menyamakan Allah (ak-Khaliq) dengan makhluk. Tanpa ragu lagi. Makhluk pasti ada yang menciptakannya. Akan tetapi pertanyaan tidak berhenti sampai di situ, bahkan dilanjutkan dengan pertanyaan tentang siapa yang menciptakan Pencipta. Maka, jatuhlah ia dalam penyerupaan al-Khaliq dengan makhluk, wal ‘iyaadzubillaah. 

5.   Pengobatan untuk waswas Iblis dan pemikiran-pemikiran syaitan ini, yaitu mengikuti tata cara Al-Qur’an dan As-Sunnah yang dijelaskan oleh Rasulullah saw.:

1.   Membaca surat Al-Ikhlas.

2.   Meludah ke kiri sebanyak tiga kali.

3.   Berlindung kepada Allah swt dari gangguan syaitan yang terkutuk dengan membaca isti’adzah.

4.   Mengatakan, “Aku beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya.:

5.   Memutus waswas dan menghentikan keraguannya. 

6.   Bimbingan Nabawi tadi merupakan cara yang paling mujarab untuk mengobati penyakit waswas dan lebih ampuh untuk memutusnya daripada cara jidal (perdebatan) logika yang sempit yang pada umumnya malah membuat orang bingung. Hendaklah orang yang waras akalnya memperhatikan benar sabda Nabi, “Sesungguhnya hal itu dapat menghilangkannya.”

Jadi, siapa saja yang melakukannya semata-mata ikhlas karena Allah dan ketaatan kepada Rasul-Nya, maka syaitan pasti lari. 

7.   Kaum Salafush Shalih menerapkan metodologi Al-Qur’an dalam memutus waswas ini.

Diriwayatkan dari Abu Zumail, ia berkata, “Aku bertanya kepada Ibnu Abbas r.a., kukatakan padanya, ‘Ada suatu perkara yang terlintas dalam hatiku.'” “Apa itu?” tanya beliau. “Demi Allah, aku tidak ingin membicarakannya!” jawabku pula. Beliau berkata, “Adakah itu sesuatu yang membuatmu ragu?” Beliau tersenyum, lalu berkata, “Tidak ada seorang pun yang terhindar dari hal itu. Namun Allah SWT telah menurunkan firman-Nya, “Maka, jika kamu (Muhammad) berada dalam keragu-raguan tentang apa yang Kami turunkan kepadamu, maka tanyakanlah kepada orang-orang yang membaca al-Kitab sebelum kamu.” (Yunus: 94) Lalu ia berkata kepadaku, “Jika engkau merasakan sesuatu yang meragukan di dalam hati, maka katakanlah, ‘Dia-lah Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Mahamengetahui segala sesuatu.'” (Al-Hadiid: 3). (Shahih, HR Abu Daud [5110]).

Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin ‘Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar’iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur’an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi’i, 2006), hlm. 91-98.

Penjelasan No 2 Tidak ada larangan dalam memikirkan Dzat ALLAH SWT

Adanya banyak pemahaman apakah Dzat Allah itu ada, bagaimana wujud-Nya, bagaimana kuasa -Nya dll yang berbeda beda membuat perdebatan tersendiri tentang Tuhan. Sebagai landasan berpikirnya akal kita juga harus berpedoman terhadap kaidah kaidah pokok dalam berakidah. Menurut  Syeik Ali Ath Thanthawi dalam kitabnya yang berjudul ” Ta’riif  ‘Aam bi Diinil Islam” disebutkan bahwa kaidah kaidah pokok dalam berakidah adalah sbb : 

1.. Sesuatu yang dapat ditangkap dengan inderaku, maka tidak diragukan lagi bahwa ia itu ada.

— > Inilah akal manusia, tetapi berdasarkan pengalamannya fatamorgana yang terjadi di padang pasir sangat mengecoh pengetahuannya tentang adanya sekumpulan air. Pena yang lurus jika diletakkan di dalam gelas akan tampak bengkok. Penglihatan mata tidak mungkin terjadi jika tidak ada cahaya, sementara cahaya tidak berguna untuk seorang yang buta. Jadi disimpulkan, penglihatan fisik sangatlah lemah dan dapat menipu. 

2.. Ada beberapa hal yang  belum pernah kita lihat dan kita rasakan, namun kita meyakini keberadaannya, seperti halnya yang telah kita rasakan.

—> Dicontohkan, kita percaya India atau Brasilia itu ada, padahal kita belum pernah kesana. Demikian halnya, kita percaya bahwa Iskandar al Maqduni telah berhasil membuka negeri Persia. Kita percaya bahwa Walid bin Abdul Malik telah membangun Masjid Jami’ Umawy, padahal kita bukanlah termasuk orang yang ikut perang dan menyaksikan pembangunan masjid tersebut. Lantas kenapa kita meyakini atas peristiwa itu ? Jadi keyakinan disamping diperoleh melalui indera juga melalui berita berita yang disampaikan oleh orang yang shidiq (jujur) sehingga ucapan dan perkataannya dapat dipercaya oleh orang lain. 

3.. Sejauh manakah pengetahuan yang dapat diperoleh indera kita ? Apakah indera kita dapat mengetahui semuanya yang maujud…?

—> Perumpaannya adalah seperti seorang yang dipenjara oleh seorang raja di dalam sebuah ruangan dengan pintu dan jendela yang tertutup, serta beberapa celah dinding penjara. Satu celah menghadap ke arah sungai yang mengalir ke sebelah timur, satu celah menghadap ke arah gunung sebelah barat, satu celah menghadap istana di sebelah utara dan celah yang lain menghadap lapangan di sebelah selatan. 

Dalam perumpamaan ini pengetahuan si terpenjara yang dimiliki sebatas celah celah yang ada di dinding  penjara. Seorang yang dipenjara itu tidak akan dapat melihat secara keseluruhan sungai di sebelah timur hanya dari balik celah penjara. Nah, demikian pula indera kita bagaimana mungkin kita bisa melihat semua yang berwujud, sementara indera kita sangat terbatas. 

Demikianlah kaidah kaidah pokok dalam berakidah. Sejarah membuktikan, bagaimana seorang tokoh komunis seperti Stalin meminta didoakan untuk kesembuhan penyakit yang dideritanya. Demikian juga DN Aidit – tokoh PKI, bagaimana ia mengatakan saat ditanya apakah ia percaya akan Tuhan..? Ia menjawab ” hanya Tuhanlah yang tahu, apakah saya percaya Tuhan atau tidak”. Dari jawaban DN Aidit dapat disimpulkan sebenarnya ia sendiri percaya kepada Tuhan. 

Imam Abu Hanifah berdebat dengan seorang yang atheis, dia menanyakan ” Apakah anda percaya bila saya katakan ada sebuah kapal dengan muatan yang penuh di tengah tengah ombak besar lautan ia tetap bisa berlayar dengan baik meskipun tanpa nahkoda ? Orang atheis itu pun menjawab ” Tentu tidak percaya”. Nah, begitu pula dengan alam semesta ini, bagaimana mungkin alam semesta ini yang sangat luas dapat berjalan sangat teratur dengan sendirinya ? tentulah ada yang menciptakannya, kata Imam Abu Hanifah. 

Di waktu lain Syeikh Abu Hammad diundang oleh orang orang atheis yang ingin berdebat dengannya periha “Dzat Allah”. Karena sesuatu hal Syeikh Abu Hammad memerintahkan mruidnya, Imam Abu Hanifah untuk memenuhi undangan kelompok orang atheis tersebut. Percakapan pun dimulai. 

Orang Atheis : “Tahun berapa tuhan engkau diciptakan ?” 

Imam Abu Hanifah : ” Tuhan tidak dilahirkan, kalau tuhan dilahirkan tentunya dia punya ayah dan ibu, lam yalid wa lam yuulad”. 

Orang Atheis : “Tahun berapakah tuhan muncul ?” 

Imam Abu Hanifah : ” Tuhan ada sebelum adanya waktu dan penanggalan, Tuhan lah yang menciptakan waktu”. 

Orang Atheis : “Kami minta contoh kongkrit”. 

Imam Abu Hanifah: Bilangan berapa sebelum empat ?” 

Orang Atheis : ” Tiga”. 

Imam Abu Hanifah: Bilangan berapa sebelum tiga ?” 

Orang Atheis : ” Dua”. 

Imam Abu Hanifah: Bilangan berapa sebelum dua ?” 

Orang Atheis : ” Satu”. 

Imam Abu Hanifah: Bilangan berapa sebelum satu ?” 

Orang Atheis : ” Tidak ada “ 

Imam Abu Hanifah: Jika dalam ilmu hitung saja tidak ada sebelum satu, bagaimana dengan satu hakiki adanya tuhan ? Sesungguhnya Dia lah yang permulaan dan yang akhir”. 

Orang Atheis : “Kemanakah arah Tuhan menghadap?” 

Imam Abu Hanifah:” Jika kita menghadapkan sebua lampu di dalam kegelapan, maka ke arah manakah cahaya lampu itu?” 

Orang Atheis : ” Ke semua arah “ 

Imam Abu Hanifah : ” Begitulah , juka cahaya yang dibuat oleh manusia saja seperti itu bagaimana dengan cahaya langit dan bumi?” 

Orang Atheis : ” Bagaimana bentuk Dzat Tuhan, apakah dia seperti air, besi atau seperti asap ?” 

Imam Abu Hanifah : “Pernahkah anda melihat orang sakratul maut dan meninggal ? apakah yang terjadi ?” 

Orang Atheis : “Keluarnya ruh dari jasad “. 

Imam Abu Hanifah : ” Bagaimana bentuk ruh ?” 

Orang Atheis : “Kami tidak tahu” 

Imam Abu Hanifah : ” Bagaimana kita bisa menjelaskan ruh Dzat Tuhan, sementara ruh ciptaan -Nya saja anda tidak tahu”. 

Orang Atheis : “Lantas di tempat manakah tuhan berada ?” 

Imam Abu Hanifah : “Kalau kita menyuguhkan susu segar, maka di dalam susu itu adakah minyak samin ?” 

Orang Atheis : “ya. 

Imam Abu Hanifah : ” Dimanakah letak minyak samin ?” 

Orang Atheis : “Minyak samin itu bercampur menyebar di dalam kandungan susu”. 

Imam Abu Hanifah : ” Bagaimana aku harus menujukkan dimana Allah berada, kalau minyak samin yang ciptaan manusia saja tidak dapat anda lihat dalam kandungan susu itu ?” 

Orang Atheis : “Jika semua yang ada dunia ini sudah ditakdirkan, lalu apa yang dikerjakan Tuhan sekarang ?” 

Imam Abu Hanifah : ” Menunjukkan apa yang telah diciptakan -Nya, meninggikan derajat sebagian manusia dan merendahkan sebagian manusia lainnya. 

Orang Atheis : ” Jika waktu permulaan masuknya manusia ke surga ada, mengapa tidak ada akhir waktunya “ 

Imam Abu Hanifah : ” Bukankah ilmu hitung yang kita kenal ada awalan, namun tidak ada akhirannya ?” 

Orang Atheis : ” Jika di surga diceritakan ada selalu ada makan – seperti di dunia sekarang ini,  kenapa tidak ada buang air besar atau buang air kecil ?” 

Imam Abu Hanifah : “Bukankah selama 9 bulan di kandungan janin selalu makan melalui darah ibu, dan tidak buang air besar atau air kecil ? 

Orang Atheis : ” Bagaimana mungkin kenikmatan makanan di surga tidak akan habis selamanya ?” padahal terus menerus dimakan “. 

Imam Abu Hanifah : ” Bukankah kalau ilmu yang diamalkan tidak membuat kita bodoh, justeru membuat kita lebih pintar ?” 

Di waktu yang lain Imam Abu Hanifah diundang oleh kelompok atheis yang lain untuk membicarakan masalah Dzat Tuhan. Janji yang disampaikan Imam Abu Hanifah adalah sebelum tengah hari, namun matahari sudah condong ke barat Imam Abu Hanifah belum juga datang. Dengan wajah yang agak marah kelompok atheis itu membanggakan diri, kalau sang ulama itu tidak sanggup berdebat dengan dirinya karena tidak memounyai dalil dalil yang cukup kuat untuk membuktikan kebenaran adanya Tuhan. Hari menjelang sore, sang ulama pun belum juga muncul. Akhirnya  kelompok atheis ini ingin membubarkan diri. Di saat itulah Imam Abu Hanifah muncul. Dengan marah kelompok atheis itu bertanya, kenapa janjinya molor. Imam Abu Hanifah pun meminta maaf, dan bercerita. ” Tadi saya sebelum siang sudah berangkat dari rumah, namun pada saat saya akan melalui sungai, saya tidak menemukan satu orang pun Tukang Perahu. Kemudian saya tunggu sampai siang, namun belum juga datang si tukang perahu yang akan menyeberangkan saya ke desa ini. Tapi tiba tiba ada beberapa potong kayu yang hanyut di hadapan saya kemudian dengan sendirinya dia merakit sendiri satu per satu potongan kayu tersebut menjadi perahu yang sangat bagus. Akhirnya saya menaiki perahu tersebut dan sampailah saya menyeberangi sungai yang membatasi desa ini. 

Atas cerita Imam Abu Hanifah tersebut, orang orang atheis itu serentak mengatakan ” Kamu pembohong !” mana mungkin potongan kayu itu dapat dengan sendirinya menjadi perahu yang bagus tanpa ada yang membuatnya “. Imam Abu Hanifah pun menjawab, ” demikian juga dengan alam semesta yang luas dan teratur ini, mana mungkin tercipta dengan sendirinya, pastilah ada yang membuatnya, Dia lah Allah swt. !” 

Ada juga dalil dalil akal yang lain seperti Imam Syafi’i ketika ditanya tentang Tuhan, dia berkata ” Dalil ku adalah daun kertau, karena meski daun itu punya rasa, bentuk, warna dan kndungan zat yang sama, tetapi kalau ia dimakan oleh ulat sutera ia dapat menghasilkan kain sutera, jika ia dimakn oleh lebah maka ia akan menghasilkan madu, jika ia dimakan oleh domba maka ia akan menghasilkan bulu, daging dan susu domba, jika ia dimakan oleh rusa maka ia dapat menggemukkannya dan membuat bau wangi di tanduknya. Akhirnya siapakah yang mengatur itu semua padahal satu sumber makanan yang berbeda, tetapi dapat menghasilkan bermacam macam zat yang berbeda beda ?” jawabannya adalah Allah swt, Sang Pencipta alam semesta. 

Itulah pembuktian akal atas Dzat Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, Tuhan Yang Maha Pencipta. Sesungguhnya akal kita diciptakan dalam keterbatasan, namun demikianlah Allah memerintahkan kita untuk selalu berpikir atas segala sesuatu yang telah diciptakan Nya. 

Kalau sekiranya Kami menurunkan Al Qur’an ini kepada sebuah gunung, pasti kamu akan melihatnya tunduk terpecah belah disebabkan takut kepada Allah. Dan perumpamaan-perumpamaan itu Kami buat untuk manusia supaya mereka berpikir.(QS.59.21) 

Alangkah celakanya kita, kalau semua tanda tanda kekuasaan Allah swt yang terlihat dan terasa oleh kita saja tidak dapat menumbuhkan suatu bentuk keimanan dalam diri kita. Perasaan iman adalah fitrah yang tidak mungkin dibohongi oleh semua makhluk Tuhan, mungkin secara lisan dia tidak mengakuinya, tetapi hakikat iman pastilah ada di dalam ruhnya masing-masing. 

Hai manusia, telah dibuat perumpamaan, maka dengarkanlah olehmu perumpamaan itu. Sesungguhnya segala yang kamu seru selain Allah sekali-kali tidak dapat menciptakan seekor lalat pun, walaupun mereka bersatu untuk menciptakannya. Dan jika lalat itu merampas sesuatu dari mereka, tiadalah mereka dapat merebutnya kembali dari lalat itu. Amat lemahlah yang menyembah dan amat lemah (pulalah) yang disembah.(QS.22.73) 

Bagaimana mungkin manusia yang sombong dapat melakukan atau menciptakan sebuah atau sesuatu barang satu saja persis seperti yang Allah ciptakan ? Tidaklah mungkin. Teknologi manapun tidak akan pernah membuat atau menciptakan persis dengan yang Allah ciptakan. 

Dan apabila ada orang yang kufur (tertutupi) atas kekuasaan Allah swt, maka semata mata karena mereka tidak mengerti, yang pada akhirnya ketidakmengertiannya akan menutupi mata hatinya sendiri, padahal hati mereka yang sebenar benarnya mengakui atas Dzat Allah swt Sang Pencipta. 

Akhirul kalam, tidakkah kita malu kepada Sang Pencipta padahal kita tahu bahwa kita ada yang menciptakan. Masih pantaskah kita menyombongkan diri di hadapan Dzat Yang Maha Besar? Tidaklah setiap orang menciptakan dirinya sendiri, sehingga ia dapat menyombongkan diri. 

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)?(QS.52.35)

“Sesuatu yang tidak ada, tidak mungkin menciptakan sesuatu yang ada ”