Senin, 01 November 2021

Nabi Ibrahim Membangun Kabbah

 "Dan ingatlah ketika Ibrahim meninggikan fondasi Baitullah bersama Ismail seraya berdoa, "Ya Tuhan kami terimalah amal dari kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Mendengar Maha Mengetahui."

 Al-Baqarah ayat 127. 

=================================

Rabbanaa taqabbal minnaa innaka antas samii’ul ‘aliimu.

“Ya Tuhan kami, terimalah (amal) dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui”. (QS. Al Baqrah: 127).

 رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً لَكَ وَأَرِنَا مَنَاسِكَنَا وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Rabbanaa waj’alnaa muslimaini laka wa minzurriyyatinaa ummatam muslimatal laka wa arina manaasikanaa wa tub ‘alainaa innaka antat tawwabur rahiimu.

“Ya Tuhan kami, jadikanlah kami orang yang berserah diri kepadaMu, dan anak cucu kami (juga), umat yang berserah diri kepadaMu”.

“Dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara melakukan ibadah (haji) kami dan terimalah taubat kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Penerima tobat, Maha Penyayang”. (QS. Al Baqarah: 128

===================

Muslimahdaily - Nabi Ibrahim alaihissalam merupakan salah satu nabi kesayangan Allah (Khalilullah) yang namanya disebutkan dalam Al-Quran dengan penuh pujian dan penghormatan. Bahkan dikatakan bahwa penghormatan untuk Nabi Ibrahim disebutkan dalam Al-Quran sebanyak tiga puluh lima kali, dan lima belas di antaranya disebutkan dalam surat Al-Baqarah.

Ia juga merupakan salah satu dari lima Ulul Azmi yang paling mulia setelah Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam.

Salah satu keistimewaan Nabi Ibrahim adalah dijadikannya ia sebagai orang pertama yang membangun Baitullah (Ka’bah) dan dibimbing langsung oleh Allah.

“Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia, ialah (Baitullah) yang di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam. Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia.

Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam.” (Qs. Ali Imran: 96-97).

Proses pembangunan Ka’bah oleh Nabi Ibrahim pun diceritakan dalam hadist berikut.

Al-Azraqy meriwayatkan dari Ibnu Juraji, bahwa Ali bin Abi Thalib berkata, “Ibrahim melangkah diiringi malaikat, awan dan burung. Mereka adalah petunjuk jalan, hingga Ibrahim menempati Baitul Haram, sebagaimana laba-laba menempati rumahnya. Dia melakukan penggalian dan memunculkan pondasi dasarnya sebesar punggung unta. Batu itu hanya dapat digerakkan oleh tiga puluh orang laki-laki.”

Kemudian Allah berfirman kepada Ibrahim, “Bangkitlah dan dirikanlah untuk-Ku sebuah rumah.” Nabi Ibrahim pun bertanya kepada Allah, “Ya Tuhan, dimanakah.”

Allah menjawab dengan firman-Nya, “Akan Kami tunjukkan kepadamu.” Kemudian Allah mengutus awan berkepala untuk menyampaikan pesan pada Nabi Ibrahim, “Hai Ibrahim, sesungguhnya Tuhanmu menyuruhmu untuk membuat garis sebesar awan ini.”

Nabi Ibrahim pun akhirnya memandang kearah awan dan mengambil ukurannya. Setelah itu awan berkepala itu bertanya pada Ibrahim, “Apakah sudah engkau lakukan?”

Ayah dari Nabi Ismail itu pun menjawab “Ya.” Setelah memastikan bahwa Nabi Ibrahim telah melakukan permintaan Tuhannya, awan itu pun menghilang dan Allah segera menghadirkan pondasi yang menancap dari bumi yang kemudian dibangun oleh Ibrahim.

Dalam riwayat lain dari Ali bin Abi Thalib, dikatakan sebagai berikut,

“Llau turunlah awan hitam laksana mendung atau kabut yang di tengahnya terdapat sebentuk kepala dan berbicara, ‘Hai Ibrahim, ambillah ukuranku pada bumi, jangan lebih dan jangan kurang.’ Kemudian Ibrahim membuat garis, dan itulah yang disebut Bakkah, sedangkah apa yang ada di sekelilingnya adalah Makkah.”

Proses pencarian Hajar Aswad

Seperti kita ketahui bahwa pada salah satu bagian Ka’bah terdapat batu hitam bernama hajar aswad. Sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Katsir bahwa saat pembangunan Ka’bah hampir selesai, saat itu masih ada ruang kosong untuk menutupi temboknya.

Berkatalah Nabi Ibrahim pada anaknya, Ismail. Meminta ia untuk mencari sebuah batu agar ruang kosong itu bisa tertutupi. ‘Pergilah engkau mencari sebuah batu yang bagus untuk aku letakkan di salah satu sudut Ka’bah sebagai penanda bagi manusia.”

Ismail pun menuruti perintah ayahnya dan pergi menuju suau bukit ke bukit lainnya untuk mencari batu terbaik. Saat dalam pencariannya, Ismail bertemu dengan malaikat Jibril yang memberinya batu hitam (Hajar Aswad) yang paling bagus.

Dengan gembira, Ismail pun menerimanya dan segera memberikan batu tersebut pada sang ayah. Nabi Ibrahim pun ikut bergembira dan mencium batu itu berkali-kali.

Sedangkan dalam buku Ibnu Katsir disebutkan bahwa saat Nabi Ibrahim meminta Ismail untuk mencari batu tersebut, Ismail merasa Lelah dan ia pun mengeluh pada ayahnya. Hingga akhirnya Ibrahim berakat, “Biar aku saja yang mencari.”

Lalu ia pergi menemui malaikat Jibril yang membawakan batu hitam dari India yang sebelumnya batu itu berwarna putih bersih seperti permata.nabi Adam lah yang membawa batu itu ketika ia turun dari surga. batu itu kemudian berubah warna menjadi hitam karena dosa-dosa manusia.

Nabi Ismail kemudian datang membawa sebuah batu, namun ia telah melihat batu tersebut di salah satu sisi Ka’bah.

Ismail berkata, ''Wahai ayahku, siapakah yang membawa batu ini.'' Ibrahim menjawab, ''Yang membawa adalah yang lebih giat darimu.'' Lalu keduanya melanjutkan pembangunan Ka'bah sambil berdoa, ''Ya Tuhan kami, terimalah dari kami (amalan kami), sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.'' (QS Al-Baqarah [2]: 127).


Sabtu, 30 Oktober 2021

Yang Dimaksud Ahli kitab

 Siapa Ahli Kitab?

Apakah umat islam bisa disebut ahli kitab?

Jawab:

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala rasulillah, amma ba’du,

Allah ta’ala menyebut al-Quran dengan nama al-Kitab. Terdapat banyak ayat al-Quran yang menunjukkan hal itu. Diantaranya firman Allah,

الم (1) ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ

Alif lam mim, inilah al-Kitab yang tidak ada keraguan di dalamnya, sebagai petunjuk bagi orang yang bertaqwa. (al-Baqarah: 1 – 2).

Atau firman Allah,

وَالَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ مِنَ الْكِتَابِ هُوَ الْحَقُّ مُصَدِّقًا لِمَا بَيْنَ يَدَيْهِ إِنَّ اللَّهَ بِعِبَادِهِ لَخَبِيرٌ بَصِيرٌ . ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا

Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu yaitu al-kitab (Al Quran) Itulah yang benar, dengan membenarkan Kitab-Kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha mengetahui lagi Maha melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. Kemudian al-Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami (QS. Fathir: 31 – 32).

Berdasarkan ayat ini, kita adalah yang mendepat kitab dari Allah. Bahkan kitab yang paling mulia diantara kitab-kitab yang Allah turunkan.

Akan tetapi, istilah ’ahli kitab’ adalah istilah syar’i, yang harus kita pahami sesuai kriteria syariat (al-Isti’mal as-Syar’i). Bukan semata tinjauan bahasa. Dan seperti yang kita tahu, Allah menggunakan istilah ini khusus untuk menyebut orang yahudi dan nasrani.

Allah berfirman,

وَلَوْ آمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُونَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُونَ

Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. (QS. Ali Imran: 110)

Tentu tidak boleh kita menafsirkan bahwa ahli kitab di situ mencakup seluruh umat yang diberi kitab. Karena ayat itu turun di zaman sahabat, dan tidak mungkin mereka termasuk dalam ’ahli kitab’ yang disebutkan di ayat. Semua sahabat beriman dan bertaqwa, sementara ayat di atas menyatakan, “di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik”.

Allah juga berfirman,

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

Orang-orang kafir di kalangan ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata (QS. Al-Bayyinah: 1)

Tentu saja, kaum muslimin tidak termasuk dalam istilah ‘ahli kitab’ di atas. Karena Allah dengan jelas menyatakan mereka kafir.

Bahkan, ketika ada orang yahudi atau nasrani yang masuk islam, mereka tidak lagi disebut ahli kitab.

Di zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ada seorang pendeta yahudi yang masuk islam, bernama Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu. Ada juga orang nasrani yang masuk islam, seperti Tamim bin Aus ad-Dari radhiyallahu ‘anhu. Allah menyinggung mereka dalam al-Quran,

وَيَقُولُ الَّذِينَ كَفَرُوا لَسْتَ مُرْسَلًا قُلْ كَفَى بِاللَّهِ شَهِيدًا بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ وَمَنْ عِنْدَهُ عِلْمُ الْكِتَابِ

Berkatalah orang-orang kafir: “Kamu bukan seorang yang dijadikan Rasul”. Katakanlah: “Cukuplah Allah menjadi saksi antaraku dan kamu, dan antara orang yang mempunyai ilmu Al Kitab.” (QS. Ar-Ra’du: 43)

Berdasarkan keterangan al-Hasan al-Bashri, Mujahid, Ikrimah, Ibnu Zaid, Ibnu Saib dan Muqatil, yang dimaksud ’orang yang mempunyai ilmu al-Kitab’ adalah Abdullah bin Salam.

Sementara menurut Qatadah, mereka adalah para ahli kitab yang telah masuk islam dan menjadi saksi kebenaran dahwah Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Seperti Abdullah bin Salam, Tamim ad-Dari, atau Abdullah bin Salam.

(Zadul Masir, 2/502).

Yang menjadi catatan, ketika para ahli kitab itu masuk islam, baik sebelumnya beragama yahudi atau nasrani, Allah tidak lagi menyebut mereka ahli kitab. Tapi Allah menyebut mereka dengan ’orang yang mempunyai ilmu al-Kitab.’.

Ibnu Asyura mengatakan,

اسم ( أهل الكتاب ) لقب في القرآن لليهود والنصارى الذين لم يتديّنوا بالإِسلام ؛ لأن المراد بالكتاب : التوراة والإِنجيل إذا أضيف إليه ( أهل ) ، فلا يطلق على المسلمين ” أهل الكتاب ” وإن كان لهم كتاب، فمن صار مسلماً من اليهود والنصارى : لا يوصف بأنه من أهل الكتاب في اصطلاح القرآن

Istilah ’ahli kitab’ adalah istilah dalam al-Quran untuk menyebut orang yahudi dan nasrani yang tidak masuk islam. Karena yang dimaksud dengan al-Kitab di sini adalah Taurat dan Injil, apabila di depannya di tambahkan kata ’ahlu’. Sehingga tidak boleh menyebut kaum muslimin dengan ahli kitab. Meskipun mereka memiliki kitab. Untuk itu, orang yahudi dan nasrani yang menjadi muslim, tidak disebut ahli kitab dalam istilah al-Quran. (Tafsir Ibnu Asyura – at-Tahrir wa at-Tanwir, 27/249)

Nama yang Allah Berikan kepada Umat Islam

Dalam al-Quran, Allah menyebut umat yang beriman dengan kebenaran dakwah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dengan kaum muslimin.

Allah berfirman,

هُوَ سَمَّاكُمُ الْمُسْلِمِينَ مِنْ قَبْلُ وَفِي هَذَا لِيَكُونَ الرَّسُولُ شَهِيدًا عَلَيْكُمْ وَتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ

Dia (Allah) telah menamai kamu sekalian dengan kaum muslimin dari dahulu, dan (begitu pula) dalam (Al Quran) ini, supaya Rasul itu menjadi saksi atas dirimu dan supaya kamu semua menjadi saksi atas segenap manusia (QS. Al-Hajj: 78)

Inilah nama yang syar’i bagi umat islam. Kaum muslimin. Nama ini telah Allah sebutkan dalam al-Quran dan kitab-kitab sebelumnya.

Allahu a’lam.




Minggu, 26 September 2021

Mujizat Belah Bulan

 Kisah Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم membelah bulan benar-benar menakjubkan hingga membuat Raja penyembah berhala dari Syam, Habib bin Malik bersyahadat dan sujud syukur. Namun tidak demikian dengan Abu Jahal dan pengikutnya yang menyebutnya sebagai sihir.

Bukti kebenaran Nabi membelah bulan ini dapat kita lihat dari gambar yang dirilis NASA beberapa tahun silam. Terbelahnya bulan merupakan salah satu mukjizat agung Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Baca Juga: Kisah Terbelahnya Bulan yang Bikin Takjub Para Pembesar Quraisy

Kisah ini juga diabadikan Allah Ta'ala dalam Al-Qur'an.

اقْتَرَبَتِ السَّاعَةُ وَانْشَقَّ الْقَمَرُ

"Telah dekat datangnya saat itu dan telah terbelah bulan." (QS Al-Qomar (54): 1)

Yang dimaksud dengan "saat itu" ialah Hari Kiamat atau saat kehancuran kaum musyrikin. Terbelahnya bulan merupakan suatu mukjizat Nabi untuk membungkam Abu Jahal dan pengikutnya yang selalu menentang Nabi.

Adapun Hadis yang meriwayatkan peristiwa terbelahnya bulan terjadi pada masa Rasulullah masih di Makkah sebelum Hijrah ke Madinah. Dari Abdullah bin Masud radhiyallahu 'anhu berkata: "Bulan terbelah menjadi dua pada masa Rasulullah lalu Beluau bersabda: Saksikanlah oleh kalian." (HR Muslim No 5010)

Dari Anas radhiyallahu 'anhu, bahwa penduduk Makkah meminta kepada Rasulullah صلى الله عليه وسلم untuk diperlihatkan kepada mereka satu mukjizat (tanda kenabian), maka Rasulullah memperlihatkan kepada mereka mukjizat terbelahnya bulan sebanyak dua kali. (HR Muslim No. 5013)

Raja Penyembah Berhala Bersyahadat

Dalam terjemahan Kitab Durrotun Nashihin Bab Mu'jizat Nabi Muhammad Karya Syekh Utsman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakir Al-Khaubawiyyi dikisahkan, pada zaman Rasulullah hiduplah raja bernama Habib bin Malik di Syam. Dia adalah penyembah berhala yang fanatik dan menentang serta membenci agama yang didakwahkan Rasulullah صلى الله عليه وسلم.

Suatu hari Abu Jahal menyurati Raja Habib bin Malik perihal Rasulullah. Surat itu membuatnya penasaran dan ingin bertemu dengan Nabi Muhammad dan membalas surat itu ia akan berkunjung ke Makkah.

Pada hari yang telah ditentukan, berangkatlah ia dengan 10.000 orang ke Makkah. Sampai di Desa Abtah, dekat Makkah, ia mengirim utusan untuk memberitahu Abu Jahal bahwa dia telah tiba di perbatasan Makkah. Maka Raja Habib oleh Abu Jahal pun disambut oleh pembesar Quraisy.

"Seperti apa sih Muhammad itu?" tanya Raja Habib setelah bertemu dengan Abu Jahal.

"Sebaiknya Tuan tanyakan kepada Bani Hasyim," jawab Abu Jahal.

Lalu Raja Habib menanyakan kepada Bani Hasyim. "Di masa kecilnya, Muhammad adalah anak yang bisa di percaya, jujur, dan baik budi. Tapi, sejak berusia 40 tahun, Ia mulai menyebarkan agama baru, menghina dan menyepelekan tuhan-tuhan kami. Ia menyebarkan agama yang bertentangan dengan agama warisan nenek moyang kami," kata salah seorang dari keluarga Bani Hasyim.

Raja Habib makin penasaran dan ia memerintahkan untuk menjemput Rasulullah صلى الله عليه وسلم dan memaksa bila ia tidak mau datang.Dengan menggunakan jubah merah dan sorban hitam, Rasulullah datang bersama Abu Bakar As-Shiddiq dan istri tercinta Sayyidah Khadijah radhiyallahu 'anha.

Sepanjang jalan Khadijah menangis karena khawatir akan keselamatan suaminya, demikian pula Abu Bakar. "Kalian jangan takut, kita serahkan semua urusan kepada Allah" kata Rasulullah.

Setibanya di Desa Abthah, Nabi Muhammad disambut dengan ramah dan dipersilahkan duduk di kursi yang terbuat dari emas. Ketika Rasulullah duduk di kursi itu, memancarlah cahaya kemilau dari wajahnya yang berwibawa, sehingga yang menyaksikannya tertegun dan kagum.

Maka berkata Raja Habib, "Wahai Muhammad, setiap Nabi memiliki mukjizat, mukjizat apa yang Engkau miliki?"

Dengan tenang, Rasulullah balik bertanya, "Mukjizat apa yang Tuan kehendaki?"

"Aku menghendaki matahari yang tengah bersinar engkau tenggelamkan,kemudian munculkanlah bulan. Lalu turunkanlah bulan ke tanganmu, belah menjadi dua bagian, dan masukkan masing-masing ke lengan bajumu sebelah kiri dan kanan. Kemudian keluarkan lagi dan satukan lagi. Lalu suruhlah bulan mengakui engkau adalah Rasul. Setelah itu kembalikan bulan itu ke tempatnya semula. Jika engkau dapat melakukannya, aku akan beriman kepadamu dan mengakui kenabianmu," kata Raja Habib.

Mendengar itu, Abu Jahal sangat gembira, pasti Rasulullah tidak dapat melakukannya. Dengan tegas dan yakin Rasulullah menjawab: "Aku penuhi permintaan Tuan."

Kemudian Rasulullah berjalan ke arah Gunung Abi Qubaisy dan sholat dua rakaat. Usai sholat, Beliau berdoa dengan menengadahkan tangan tinggi-tinggi, agar permintaan Raja Habib terpenuhi.

12.000 Malaikat Turun

Seketika itu juga tanpa diketahui oleh siapapun turunlah 12.000 Malaikat.Maka berkatalah Malaikat Jibril: "Wahai Rasulullah, Allah menyampaikan salam kepadamu."

Allah berfirman, "Wahai kekasih-Ku, janganlah engkau takut dan ragu.Sesunguhnya Aku senantiasa bersamamu. Aku telah menetapkan keputusan-Ku sejak Zaman Azali.' Tentang permintaan Habib bin Malik, pergilah engkau kepadanya untuk membuktikan kerasulanmu. Sesungguhnya Allah yang menjalankan matahari dan bulan serta mengganti siang dengan malam."

Untuk diketahui, Habib bin Malik mempunyai seorang putri cacat, tidak memiliki kaki dan tangan kemudian matanya buta. Allah menyembuhkan anak itu, sehingga bisa berjalan, meraba dan melihat.

Lalu bergegaslah Rasulullah turun menjumpai orang kafir Quraisy,sementara bias cahaya kenabian yang memantul dari wajahnya semakin bersinar.

Ketika itu matahari telah beranjak senja. Matahari hampir tenggelam, sehingga suasananya remang-remang. Tak lama kemudian Rasulullah berdoa agar bulan segera terbit. Maka terbitlah bulan dengan sinar yang benderang.

Lalu dengan dua jari Rasulullah صلى الله عليه وسلم mengisyaratkanagar bulan itu turun kepadanya. Tiba-tiba suasana jadi amat menegangkan ketika terdengar suara gemuruh yang dahsyat.

Segumpal awan mengiringi turunnya bulan ke tangan Rasulullah. Segera setelah itu Beliau membelahnya menjadi dua bagian, lalu Beliau masukkan ke lengan baju kanan dan kiri. Tidak lama kemudian, Beliau mengeluarkan potongan bulan itu dan menyatukannya kembali.

Dengan sangat takjub orang-orang menyaksikan Rasulullah menggengam bulan yang bersinar dengan indah dan cemerlang. Bersamaan dengan itu bulan mengeluarkan suara: "Asyhadu alla ilaha illallah, wa asyhadu anna Muhammadan 'abduhu wa Rasuluh."

Menyaksikan keajaiban itu, pikiran dan perasaan semua yang hadir terguncang. Sungguh, ini bukan mimpi, melainkan sebuah kejadian yang nyata! Sebuah mukjizat luar biasa hebat yang disaksikan sendiri oleh Raja Habib bin Malik.

Ia menyadari, itu tak mungkin terjadi pada manusia biasa, meski ia lihat dalam ilmu sihir sekalipun. Namun, hati Raja Habib masih beku.Maka ia pun berkata: "Aku masih mempunyai syarat lagi untuk mengujimu."

Belum lagi Raja Habib sempat melanjutkan ucapannya, Rasulullah صلى الله عليه وسلم memotong pembicaraan: "Engkau mempunyai putri yang tidak sempurna, bukan? Sekarang, Allah telah menyembuhkannya dan menjadikannya seorang putri yang sempurna."

Raja Habib pun terkejut karena tidak ada siapapun yang tahu penyakitanaknya itu yaitu lumpuh dan matanya buta kecuali orang-orang istana dan mereka yang dekat dengannya saja.

Mendengar itu, betapa gembiranya hati Raja Habib. Spontan ia pun berdiri dan berseru, "Hai penduduk Makkah! Kalian yang telah beriman jangan kembali kafir, karena tidak ada lagi yang perlu diragukan. Ketahuilah, sesungguhnya aku bersaksi, tiada Tuhan selain Allah dan tiada sekutu baginya; dan aku bersaksi sesungguhnya Muhammad adalah Utusan dan hamba-Nya!"

Abu Jahal Jengkel

Melihat semua itu Abu Jahal jengkel dan marah. Dengan emosi dia berkata kepada Raja Habib: "Wahai! Raja Habib engkau beriman kepada tukang sihir ini, hanya karena menyaksikan kehebatan sihirnya?"

Namun Raja Habib tidak menghiraukannya dan berkemas untuk pulang. Sampai di pintu gerbang istana, putrinya yang sudah sempurna, menyambutnya sambil mengucapkan dua kalimat syahadat.

Tentu saja Raja Habib terkejut. "Wahai putriku, darimana kamu mengetahui ucapan itu? Siapa yang mengajarimu?"

"Aku bermimpi didatangi seorang lelaki tampan rupawan yang memberi tahu ayah telah memeluk Islam. Dia juga berkata, jika aku menjadi muslimah, anggota tubuhku akan lengkap. Tentu saja aku mau, kemudian aku mengucapkan dua kalimat sahadat," jawab sang putri.

Maka seketika itu juga Raja Habib pun bersujudlah sebagai tanda syukur kepada Allah.

"Sungguh, telah dekat hari Kiamat, dan telah terbelah bulan. Dan jika mereka (orang-orang musyrikin) melihat suatu tanda (mukjizat), mereka berpaling dan berkata, "(Ini adalah) sihir yang terus menerus." Dan mereka mendustakan (Muhammad) dan mengikuti keinginannya, padahal setiap urusan telah ada ketetapannya." (QS Al-Qomar 1-3)

Gambar permukaan bulan yang diklaim sebagai bukti pernah terbelahnya bulan dapat dilihat dari dokumen yang dipublikasikan oleh situs Badan Antariksa Amerika (NASA) pada 29 Oktober 2002. Dilansir dari Al-habib.info, bahwa di sana terlihat sebuah ngarai (semacam kanal kering) besar yang lurus membentang, dan mengesankan sebuah bekas patahan atau belahan yang tersambung kembali.

Tetapi, jika kita bersedia membaca lebih jauh keterangan dari NASA mengenai gambar tersebut, orang akan berpikir ulang untuk menyatakan bahwa ngarai itu merupakan bekas terbelahnya bulan. Silakan cek di sini Fakta Bentukan Alam di Bulan


Selasa, 14 September 2021

10 Mujizat Nabi Muhammad SAW

 10 Mukjizat Nabi Muhammad SAW yang Bisa Diceritakan kepada AnakPenuh keajaiban, berikut mukjizat Nabi Muhammad SAW dari Allah SWT

Kisah Nabi Muhammad SAW merupakan cerita yang perlu disampaikan pada setiap anak dalam agama Islam. Perjuangan dan kebaikan Sang Nabi adalah tauladan bagi anak-anak.

Tak hanya di lingkungan formal, pendidikan agama juga penting ditanamkan sejak usia dini bahkan oleh orangtua di rumah.

Seperti misalnya menceritakan kisah para nabi, termasuk dengan mukjizat yang dimiliki para nabi dan Rasul. Dengan demikian, maka pengetahuan anak mengenai sejarah Islam akan lebih luas dan bisa mereka amalkan dalam kehidupan sehari-harinya.

Ada banyak nabi yang bisa Mama bacakan kisahnya kepada anak, salah satunya Nabi Muhammad SAW yang selama hidupnya memiliki mukjizat luar biasa dari Allah SWT.

Nabi paling akhir yang diutus Allah untuk menuntun umat Islam ke jalan yang benar adalah nabi penutup dan tidak ada lagi nabi setelahnya yang menjadi utusan Allah.

Inilah mengapa Nabi Muhammad mempunyai sebutan sebagai Khataman Nabiyyin, atau nabi paling akhir. Menyempurnakan ajaran Allah yang telah disampaikan oleh nabi-nabi terdahulu, Nabi Muhammad menjadi utusan untuk menyempurnakan ajaran kepada umat Islam.

Sebagai utusan dalam menuntun umat Islam kepada ajaran yang benar, Allah memberikan segala mukjizat yang luar biasa kepada Nabi Muhammad. Mukjizat ini juga bisa diceritakan pada anak sebagai pemahaman baru akan sejarah Islam, serta diharapkan dapat anak amalkan dalam kehidupan.

1. Al Quran

Mukjizat Nabi Muhammad SAW yang pertama adalah diturunkannya Alquran. Sebagaimana diketahui bersama bahwa Alquran merupakan mukjizat pertama dan menjadi mukjizat terbesar yang diberikan kepada Nabi Muhammad diantara 4 kitab lainnya.

Perlu diketahui juga, sebelum Allah menurunkan Alquran, lebih dulu kitab Taurat diturunkan pada Nabi Musa AS, Zabur pada Nabi Daud AS, dan Injil pada Nabi Isa AS.

Alquran juga menjadi mukjizat yang abadi sepanjang masa dan menjadi kitab bagi umat Islam dari dulu hingga saat ini.

2. Isra Miraj

Salah satu perayaan tertentu pada umat Islam adalah isra miraj atau perjalanan malam yang dilakukan Nabi Muhammad. Di mana keduanya adalah mukjizat berikutnya yang diturunkan Allah kepada Rasulullah.

Disebutkan bahwa isra adalah perjalanan dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa. Sementara miraj dari Baitul Maqdis ke Sidratul Muntaha, untuk menerima perintah salat dalam waktu tidak sampai satu malam.

Sementara Isra Miraj sendiri diyakini terjadi pada malam 27 Rajab.

Merujuk buku Air Zamzam Mukjizat yang Masih Terjaga (Said Bakdasy, 2015), Malaikat Jibril membelah dada Nabi Muhammad dan ‘membersihkan’ hatinya dengan air zamzam sebanyak empat kali.

Pertama, saat Nabi Muhammad berusia empat tahun dan masih tinggal bersama dengan ibu susunya, Sayyidah Halimah as-Sa’diyah, di kampung Bani Sa’d. Lalu terjadi lagi pembersihan berikutnya.

Hikmah di balik pembelahan ketiga adalah agar Nabi Muhammad mampu menerima wahyu dengan hati yang kuat, bersih dan diridhai.

3. Mengobati Sakit Mata

Sebelum menaklukan Benteng Khaibar, Ali bin Abi Thalib sebagai pemegang bendera pasukan sempat mengalami sakit mata. Dengan mukjizat yang diberikan Allah, Nabi Muhamamd kemudian memanggil Ali dan meludahi matanya yang sakit.

Maha besar Allah, berkat mukjizat yang diberikannya kepada Rasulullah, mata Ali bin Abi Thalib kemudian sembuh dan tidak terlihat seperti seorang yang pernah mengalami sakit

 4. Makanan yang sedikit tetapi cukup untuk banyak orang

Sebagaimana diceritakan dalam HR Al-Bukhari No. 3385; Muslim No. 2040, dikisahkan bahwa saat itu Nabi Muhammad SAW sedang dalam keadaan lemas, sehingga Abu Tholhah dan istrinya mengundang Sang Nabi untuk makan.

Dalam kesempatan tersebut, Rasulullah datang membawa sahabatnya sekitar 70-80 orang. Namun Abu Tholhah dan istrinya hanya memiliki sedikit makanan yang tidak cukup untuk diberikan kepada Rasulullah dan para sahabatnya.

Sebelum makan, Rasulullah kemudian mendoakan makanan yang dihidangkan oleh Abu Tholhah dan istrinya. Setelahnya para sahabat Rasulullah diminta makan bergantian hingga semua mendapat giliran, termasuk Rasulullah dan keluarga Abu Tholhah.

Berkat mukjizat yang Allah berikan, makanan yang berjumlah sedikit tersebut dapat membuat seluruh tamu merasa kenyang. 

5. Membelah bulan

Mukjizat Nabi Muhammad SAW lainnya adalah dapat membelah bulan. Kejadian ini bermula ketika orang-orang kafir tidak percaya perjalanan Isra Miraj yang telah Rasul selesaikan. Kisah ini terjadi pada saat sebelum Rasulullah berhijrah ke Madinah.

Kaum kafir kemudian menantang Rasulullah untuk membuktikan kenabiannya dengan membelah bulan. Suatu malam kaum kafir beramai-ramai mendatangi Nabi Muhammad SAW. Kala itu Rasul sedang berada di Mina. 

Sekelompok kaum musrik itu menantang Nabi Muhammad SAW untuk membelah bulan, jika ia menyanggupinya maka mereka akan tunduk kepada Allah SWT.

Rasulullah pun sontak langsung menunjuk ke arah bulan, dan atas kehendak Allah SWT yang menurunkan mukjizat pada Nabi Muhammad SAW maka bulan terbagi menjadi dua. 

Seperti disebutkan dalam Sahuh Al-Bukhari, "Bahwa orang-orang Makkah meminta utusan Allah untuk menunjukkan kepada mereka mukjizat, dan ia menunjukkan kepada mereka pemisahan bulan." 

Sayangnya, setelah berhasil memperlihatkan bulan terbelah kaum kafir pun berkhianat. Mereka tetap membenci Nabi Muhammad SAW dan tidak tunduk kepada Allah SWT. 

6. Doa meminta hujan

Pada suatu waktu, diceritakan bahwa Nabi Muhammad tengah berkhutbah Jumat. Saat itu, ada umatnya yang meminta didoakan agar turun hujan karena terjadi kekeringan.

Rasulullah pun berdoa dan memohon kepada Allah SWT. Atas kehendak-Nya, turunlah hujan deras terus menerus sampai hari Jumat berikutnya.

Meski sudah tidak alami kekeringan, namun terdapat seorang umat memberi tahu Rasulullah bahwa banyak rumah yang rusak akibat hujan derat yang tak kunjung berhenti. 

Mengetahui hal tersebut, Rasulullah kembali berdoa agar hujan dapat dialihkan ke sekeliling kota Madinah. Tak lama setelah itu, awan-awan di langit atas kota Madinah pun bergerak pindah ke pinggir kota Madinah.

Cerita ini juga disebutkan dalam HR. Al-Bukahari No. 3582.

7. Segelas susu yang dapat mengenyangkan banyak orang

Tak hanya mukjizat makanan sedikit yang dapat mengenyangkan banyak orang, diceritakan pula dalam HR Al-Bukhari No. 6087 bahwa mukjizat Nabi Muhammad selanjutnya adalah segelas susu yang dapat mengenyangkan banyak orang.

Diceritakan bahwa saat ada sahabat Rasulullah yakni Abu Hurairah yang dalam keadaan kekurangan tetapi memiliki banyak ilmu dan kuat hafalannya. Sampai suatu waktu, Rasulullah melewati sahabatnya itu yang tengah duduk di pinggir jalan.

Rasulullah yang mengetahui penderitaan Abu Hurairah pun mengajaknya untuk ikut ke rumahnya. Sesampainya di rumah, Rasulullah menemukan segelas susu dan bertanya pada sang istri dari mana susu tersebut. Istrinya kemudian menjawab dari Fulan.

Rasulullah pun meminta Abu Hurairah memanggil ahlush shuffah atau sekumpulan sahabat yang tinggal di masjid Rasulullah.

Tak lama kemudian, mereka pun datang ke rumah Rasulullah dan meminta Abu Hurairah untuk membagikan susu kepada mereka.

Abu Hurairah memberikan gelas berisi susu kepada orang pertama dan mengizinkan orang tersebut meminumnya sampai puas, setelahnya gelas diberikan kepada orang kedua dan seterusnya sampai mereka semua puas.

Setelah para tamu merasa puas, gelas itu kemudian dikembalikan kepada Rasulullah. Saat itu, hanya Rasulullah dan Abu Hurairah yang belum meminum susu tersebut.

Rasulullah mengizinkan Abu Hurairah untuk meminumnya dahulu. Kemudian barulah susu itu diberikan kepada Rasulullah. Beliau memuji Allah dan bersyukur lalu membaca, "Bismillah" sebelum meminum sisa susu dari Abu Hurairah.

Mereka pun dapat menikmati segelas susu secara bersamaan dan mengenyangkan berkat mukjizat yang Allah berikan pada Rasulullah.

8. Air yang mengalir dari jemari tangan

Diceritakan pada hari Al-Hudaibiya (perjanjian), ada banyak orang yang merasakan kehausan kala itu. Setelah menyelesaikan wudhu dengan air yang seadanya, mereka bergegas mengunjungi Nabi Muhammad.

Orang-orang tersebut mengatakan kepada Rasulullah bahwa mereka tidak memiliki air untuk wudhu maupun minum, kecuali sepanci air kecil yang tidak cukup untuk semua orang

Mengetahui hal tersebut, Rasulullah kemudian meletakan tanggan ke dalam panci dan air mulai mengalir dari jari-jarinya seperti mata air. Berkat kehendak Allah, akhirnya semua orang dapat minum dan wudhu tanpa merasa kekurangan.

9. Meramalkan sang istri

Sebelum wafatnya Nabi Muhammad dan sang istri, Zainab. Rasulullah pernah meramalkan sang istri yang terkenal paling rajin bersedekah ini bahwa Zainab akan meninggal tidak lama setelah wafatnya sang Rasul.

Zainab binti Jahsy merupakan istri ketujuh Rasulullah. Zainab merupakan istri Rasulullah yang dikenal karena sifat kedermawanannya. 

Sungguh tepat, ramalan Rasulullah kemudian terbukti ketika Zainab meninggal dunia setelah kematian Rasulullah. Ia wafat di Madinah pada tahun ke-20 Hijriah.

10. Dapat memancarkan petir

Mukjizat Nabi Muhammad SAW lainnya yang Allah SWT berikan adalah tubuhnya yang dapat memancarkan petir. Ini terjadi ketika Rasulullah hendak dibunuh oleh Syaibah bin Utsman dalam Perang Hunain.

Kala peran tersebut, diceritakan bahwa Rasulullah belum makan selama 3 hari. Namun berkat kehendak Allah, Rasulullah sanggup menghancurkan batu besar dengan tiga kali pukulan dan tubuhnya dapat memancarkan nyala api dan petir.

Subhanallah, itulah mukjizat Nabi Muhammad SAW yang diberikan oleh Allah SWT untuk membantunya berdakwah dan membuktikan kenabiannya. Begitu besar kehendak yang Allah SWT berikan kepada Rasulullah ya, Ma.

Semoga informasi di atas dapat Mama ceritakan kepada anak di rumah sebagai penambah wawasan sejarah Islam, serta dapat menjadi amalan bagi kehidupan sehari-harinya.

Sabtu, 28 Agustus 2021

Kafir orang berkata isa Tuhan

 Allah Subhanallahu wa Ta’ala berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ قُلْ فَمَنْ يَمْلِكُ مِنَ اللَّهِ شَيْئًا إِنْ أَرَادَ أَنْ يُهْلِكَ الْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَأُمَّهُ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا وَلِلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا يخْلُقُ مَا يَشَاءُ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah  yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta  ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?”. Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Maaidah [5]: 17)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih  berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan  Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maaidah [5]: 72)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Al-Maaidah [5]: 73)

Jumat, 20 Agustus 2021

Wahyu pertama-tama Nabi Muhammad فَغَطَّنِي

 

Wahyu pertama-tama

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ ح و حَدَّثَنِي عَبْدُ اللَّهِ بْنُ مُحَمَّدٍ حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ حَدَّثَنَا مَعْمَرٌ قَالَ الزُّهْرِيُّ فَأَخْبَرَنِي عُرْوَةُ عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّادِقَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ فَكَانَ يَأْتِي حِرَاءً فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَتُزَوِّدُهُ لِمِثْلِهَا حَتَّى فَجِئَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فِيهِ فَقَالَ اقْرَأْ فَقَالَ لَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدُ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدُ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدُ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ } حَتَّى بَلَغَ { عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ } فَرَجَعَ بِهَا تَرْجُفُ بَوَادِرُهُ حَتَّى دَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ فَقَالَ يَا خَدِيجَةُ مَا لِي وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ وَقَالَ قَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي فَقَالَتْ لَهُ كَلَّا أَبْشِرْ فَوَاللَّهِ لَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَصْدُقُ الْحَدِيثَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ ثُمَّ انْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ قُصَيٍّ وَهُوَ ابْنُ عَمِّ خَدِيجَةَ أَخُو أَبِيهَا وَكَانَ امْرَأً تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعَرَبِيَّ فَيَكْتُبُ بِالْعَرَبِيَّةِ مِنْ الْإِنْجِيلِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ أَيْ ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ فَقَالَ وَرَقَةُ ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا رَأَى فَقَالَ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي أُنْزِلَ عَلَى مُوسَى يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا أَكُونُ حَيًّا حِينَ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ فَقَالَ وَرَقَةُ نَعَمْ لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ الْوَحْيُ فَتْرَةً حَتَّى حَزِنَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيمَا بَلَغَنَا حُزْنًا غَدَا مِنْهُ مِرَارًا كَيْ يَتَرَدَّى مِنْ رُءُوسِ شَوَاهِقِ الْجِبَالِ فَكُلَّمَا أَوْفَى بِذِرْوَةِ جَبَلٍ لِكَيْ يُلْقِيَ مِنْهُ نَفْسَهُ تَبَدَّى لَهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ يَا مُحَمَّدُ إِنَّكَ رَسُولُ اللَّهِ حَقًّا فَيَسْكُنُ لِذَلِكَ جَأْشُهُ وَتَقِرُّ نَفْسُهُ فَيَرْجِعُ فَإِذَا طَالَتْ عَلَيْهِ فَتْرَةُ الْوَحْيِ غَدَا لِمِثْلِ ذَلِكَ فَإِذَا أَوْفَى بِذِرْوَةِ جَبَلٍ تَبَدَّى لَهُ جِبْرِيلُ فَقَالَ لَهُ مِثْلَ ذَلِكَ قَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ { فَالِقُ الْإِصْبَاحِ } ضَوْءُ الشَّمْسِ بِالنَّهَارِ وَضَوْءُ الْقَمَرِ بِاللَّيْلِ

Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair telah menceritakan kepada kami Al Laits dari Uqail dari Ibnu Syihab -lewat jalur periwayatan lain-Dan Telah menceritakan kepadaku 'Abdullah bin Muhammad telah menceritakan kepada kami 'Abdurrazaq telah menceritakan kepada kami Ma'marAz Zuhri mengatakan, telah menceritakan kepadaku Urwah dari Aisyah radliallahu 'anha, ia menceritakan; wahyu pertama-tama yang diturunkan kepada Rasulullah Shallallahu'alaihiwasallam adalah berupa mimpi yang baik ketika tidur, beliau tidak bermimpi selain datang seperti fajar subuh, dan beliau selalu pergi ke goa Hira bertahannus di sana, yaitu beribadah beberapa malam, dan beliau untuk hal tersebut berbekal, kemudian kembali kepada Khadijah agar dia dapat membekali beliau untuk keperluan seperti itu, sampai akhirnya beliau di kejutkan dengan al haq ketika beliau sedang berada di dalam goa Hira`, malaikat datang kepada beliau dan berujar; 'bacalah! ' Nabi shallallahu 'alaihi wasallam berkata kepadanya; "maka aku menjawab; 'Saya tidak bisa membaca! ' Lalu dia mendekapku dan menutupiku hingga aku kepayahan. kemudian melepasku dan berkata; 'Bacalah! ' aku menjawab; 'Saya tidak bisa membaca! ' Ia mendekapku lagi dan menutupiku untuk kedua kalinya hingga aku kepayahan, kemudian melepasku lagi seraya mengatakan; 'Bacalah! ' saya menjawab; 'Saya tidak bisa membaca.' Maka ia mendekapku dan menutupiku untuk kali ketiganya hingga aku kepayahan, kemudian melepasku lagi dan mengatakan; 'IQRO' BISMI ROBBIKAL LADZII KHOLAQO sampai ayat 'ALLAMAL INSAANA MAA LAM YA'LAM, '" kemudian beliau pulang dengan menggigil hingga menemui Khadijah dan berkata; "Selimutilah aku, selimutilah aku!" maka keluarganya pun menyelimuti beliau, sampai rasa ketakutan beliau menghilang, kemudian beliau berkata: "ya Khadijah, apa yang terjadi pada diriku?" beliau menceritakan peristiwa tersebut kepadanya dan berkata; "Aku mengkhawatirkan diriku" Maka Khadijah menjawab: 'Sekali-kali tidak, bergembiralah, demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selama-lamanya, sebab engkau suka menyambung silaturrahim, berkata jujur, menghilangkan kesusahan serta menjamu tamu, serta membela kebenaran! ' Maka Khadijah pergi bersama beliau menemui Waraqah bin naufal bin Asad bin Abdul Uzza bin Qushshay, anak paman Khadijah, atau saudara ayahnya, ia adalah semasa jahiliyah beragama nashrani dan suka menulis kitab suci arabi, ia menulis injil arabi dengan kehendak Allah, dan dia seorang kakek yang cukup umur dan buta. Maka Khadijah berkata kepadanya; 'Wahai anak paman, dengarlah (apa yang dituturkan) anak saudaramu! ' Waraqah bertanya; 'Hai anak saudaraku, apa yang telah kau lihat? ' Maka Nabi shallallahu 'alaihi wasallam mengabarkan apa yang telah beliau lihat, spontan Waraqah mengatakan; 'Ini adalah Namus yang pernah diturunkan kepada Musa, duhai sekiranya ketika itu aku masih gagah perkasa dan masih hidup, ketika kaummu mengusirmu! ' "Adakah kaumku akan mengusirku?" Tanya Nabi shallallahu 'alaihi wasallam. Waraqah menjawab; 'Iya, tidak ada seorang pun yang membawa seperti yang kau bawa, melainkan ia akan dimusuhi. Jikalau aku temui hari-harimu, niscaya aku membelamu dengan gigih.' kemudian tak berselang lama Waraqah meninggal dan wahyu berhenti beberapa lama hingga Nabi shallallahu 'alaihi wasallam sedih. Berita yang sampai kepada kami, kesedihan yang beliau alami sedemikian rupa, hingga beliau beberapa kali ingin bunuh diri dengan cara menerjukan diri dari puncak gunung, setiap kali beliau naik puncak gunung untuk menerjunkan dirinya, Jibril menampakkan diri dan mengatakan; 'hai Muhammad, sesungguhnya engkau betul-betul Rasulullah! ' nasehat ini menjadikan hatinya lega dan jiwannya tenang dan pulang. Namun jika sekian lama wahyu tidak turun, jiwanya kembali terguncang, dan setiap kali ia naik puncak gunung untuk bunuh diri, Jibril menampakkan diri dan menasehati semisalnya. Ibnu Abbas mengatakan tentang ayat; 'Faaliqul ishbah' yaitu cahaya matahari ketika siang, dan cahaya bulan ketika malam.

Waraqah bin Naufal

 Ketika Rasulullah menerima wahyu di awal-awal kenabiannya, beliau ragu dengan apa yang terjadi. Sayyidah Khadijah mengajaknya menemui Waraqah bin Naufal, saudara sepupunya. Waraqah bin Naufal adalah orang yang menguasai kitab-kitab suci terdahulu, khususnya Yahudi dan Kristen. Waraqah termasuk orang langka. Di saat mayoritas orang Quraisy menyembah berhala, ia mempercayai tradisi agama-agama terdahulu dan menolak menyembah berhala. Ia mencari agama yang lurus (al-millah al-hanafiyyah) dan ajaran Ibrahim (al-syarî’ah al-ibrâhimiyyah). Hal ini tercatat dalam Nawâdir al-Mahthûthât yang mengatakan:

كانت فيهم الملة الحنيفية الإسلامية، والشريعة الإبراهيمية، ومن أهلها كان قس بن ساعدة الإيادي، ورقة بن نوفل الأسدي، وزيد بن عمرو من بني عدي، وقتلته الروم لذلك “

Di dalamnya terdapat (pencari/penganut) agama lurus yang islamiyyah dan syariat Nabi Ibrahim, sebagian dari mereka adalah Quss bin Sâ’idah al-Iyâdî (w. 23 SH), Waraqah bin Naufal al-Asadî, Zaid bin ‘Amr dari Bani ‘Adi yang terbunuh oleh orang Romawi karena melakukan pencarian.” (Syekh Abdussalam Muhammad Harun, Nawâdir al-Mahthûthât, Kairo: Mathba’ah Musthafa al-Babi al-Halabi, 1973, juz 1, h. 327) Nasab Waraqah dari pihak ayah adalah Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza, sedang dari pihak ibu adalah Hindun binti Abu Kabir bin ‘Abd bin Qushay. Waraqah bin Naufal merupakan penganut agama Nasrani. Imam Ibnu Ishaq berkata: “kâna nashrâniyyan qad tatabba’a al-kutub—Ia seorang Nasrani yang benar-benar mengikuti kitab-kitab.” (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf Syarh al-Sîrah al-Nabawiyyah lî Ibn Hisyâm, Kairo: Darul Hadits, 2008, juz 1, h. 361-364). Ia menentang penyembahan berhala yang dilakukan masyarakatnya. Salah satu riwayat yang menunjukkan keyakinannya adalah perkataannya terhadap teman-temannya:

أتعلمون والله ما قومكم على دين، ولقد أخطأوا الحجة، وتركوا دين إبراهيم

“Apakah kalian mengetahui, demi Allah kaum kalian tidak berada dalam agama (yang benar). Cara pandang mereka salah. Mereka telah meninggalkan agama Ibrahim.” (Imam Ibnu ‘Asakir, Tarîkh Madînah Dimasyq, Beirut: Darul Fikr, 1995, juz 3, h. 424) Dari berbagai riwayat, Waraqah bin Naufal adalah orang yang haus dengan kebenaran. Ia berkelana ke sana-kemari mencarinya, melintasi berbagai negeri dan kota. Dalam salah satu riwayat diceritakan:

أن زيد بن عمرو وورقة بن نوفل خرجا يلتمسان الدين حتي انتهيا إلي راهب بالموصل فقال لزيد بن عمرو: من أين أقبلت يا صاحب البعير؟ فقال: من بنية إبراهيم، قال: وما تلتمس؟ قال: ألتمس الدين، قال: ارجع فإنك يوشك أن يظهر في أرضك، قال: فأما ورقة فتنصّر وأما أنا فعدمت علي النصرانية فلم يوافقني، فرجع “

Sesungguhnya Zaid bin Amr dan Waraqah bin Naufal keduanya berkelana mencari agama (yang benar) hingga keduanya sampai kepada seorang pendeta di Mosul. Pendeta itu berkata kepada Zaid bin ‘Amr: ‘Dari mana kau berasal, wahai penunggang unta?’ Zaid bin ‘Amr menjawab: ‘Dari rumah Ibrahim (Ka’bah/Makkah).’ Pendeta itu berkata: ‘Apa yang sedang kau cari?’ Zaid bin ‘Amr menjawab: ‘Aku sedang mencari agama (yang benar).’ Pendeta itu berkata: ‘Kembalilah, sesungguhnya kau telah dekat dengan kemunculan (agama yang benar) di tanahmu (daerahmu).’ Zaid bin Amr berkata: ‘Adapun Waraqah menjadi seorang Nasrani, tapi aku kehilangan (ketertarikan) terhadap agama Nasrani, karenanya Waraqah tidak sependapat denganku. Kemudian Zaid bin Amr kembali (ke Makkah).” (Imam Ibnu ‘Asakir, Tarîkh Madînah Dimasyq, Beirut: Darul Fikr, 1995, juz 19, h. 500)

Waraqah belajar pada banyak guru, dan menguasai kitab-kitab terdahulu. Ia juga menyalin Perjanjian Baru ke dalam bahasa Arab. Ia memahami betul isi kitab-kitab suci terdahulu, terutama dalam tradisi Ibrahim. Sebagai saudara sepupunya, Sayyidah Khadijah mengetahui keahlian Waraqah bin Naufal. Karena itu, ia membawa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepadanya, dan menanyakan peristiwa yang dialami suaminya. Setelah diceritakan secara mendetail, Waraqah bin Naufal mengatakan:

 أَبْشِرْ، ثُمَّ أَبْشِرْ، فَأَنَا أَشْهَدُ أَنَّكَ الَّذِي بَشَّرَ بِهِ ابْنُ مَرْيَمَ، وَأَنَّكَ عَلَى مِثْلِ نَامُوسِ مُوسَى، وَأَنَّكَ نَبِيٌّ مُرْسَلٌ، وَأَنَّكَ سَوْفَ تُؤْمَرُ بِالْجِهَادِ بَعْدَ يَوْمِكَ هَذَا، وَلَئِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ لَأُجَاهِدَنَّ مَعَكَ “

Berbahagialah, kemudian berbahagialah. Aku bersaksi bahwa kau adalah orang yang (dijanjikan) membawa kabar gembira oleh (Isa) putra Maryam. Sesungguhnya kau (didatangi malaikat) seperti Namus (Jibril) untuk Musa. Sesungguhnya kau adalah nabi yang diutus. Sesungguhnya kau akan diperintahkan untuk berjihad setelah harimu (diangkat menjadi nabi) ini, dan andai aku masih bertemu masa itu, sungguh, aku akan berjihad bersamamu.” (Imam Abu Bakr al-Baihaqi, Dalâ’il al-Nubuwwah, Kairo: Dar al-Rayyan li al-Turats, 1988, juz 2, hlm 158-159) Dalam riwayat lain dikatakan, pertama kali Sayyidah Khadijah menemui Waraqah adalah ketika ia mendengar cerita pembantunya, Maisarah, tentang perkataan Rahib yang melihat Muhammad dilindungi oleh dua malaikat. Dalam riwayat itu dikatakan:

 قال إبن إسحاق: وكانت خديجة بنت خويلد قد ذكرتْ لورقة بن نوفل بن أسد بن عبد العزّي—وكان ابن عمّها، وكان نصرانيّا قد تتبّع الكتب، وعلم من علم النّاس—ما ذكر لها غلامها ميسرة من قول الرّاهب، وما كان يري منه إذ كان الملكان يظلّانه، فقال ورقة: لئن كان هذا حقا يا خديجة، إنّ محمّدا لنبيّ هذه الأمة، وقد عرفْت أنه كائن لهذه الأمة نبيّ ينتظر، هذا زمانه “

Ibnu Ishaq berkata: Khadijah binti Khuwailid bercerita kepada Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza—ia adalah anak pamannya, seorang Nasrani yang bersungguh-sungguh mengikuti kitab-kitab, dan orang yang berilmu di (kalangan) manusia—apa yang diceritakan pembantunya, Maisarah, kepadanya tentang perkataan seorang pendeta, bahwa ia melihat Muhammad selalu dinaungi oleh dua malaikat. Waraqah bin Naufal berkata: ‘Jika (ceritamu) ini benar, wahai Khadijah, sesungguhnya Muhammad adalah nabi umat ini. Sungguh aku telah mengetahui bahwa ada nabi yang dinantikan untuk umat ini, dan inilah waktunya’.” (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf Syarh al-Sîrah al-Nabawiyyah lî Ibn Hisyâm, 2008, juz 1, h. 364) Waraqah bin Naufal diperkirakan wafat sekitar tahun 610 M, tidak lama setelah Nabi Muhammad menerima wahyu pertamanya. Soal kedudukannya di akhirat, banyak riwayat yang menunjukkan bahwa Waraqah adalah ahli surga. Berikut beberapa riwayat yang menjelaskan tentang itu:

 فمات ورقة فقال رسول الله صلى الله عليه وسلم: رأيت القس في الجنة عليه ثياب خضر “

Kemudian Waraqah meninggal (tak lama setelah meyakini kenabian Muhammad), maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Aku melihat sang pendeta (Waraqah bin Naufal) di surga mengenakan baju hijau.” (Imam Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, Beirut: Darul Qiblah lil-Tsaqafah al-Islamiyyah, 2006, juz 20, h. 233) Imam Abu al-Qasim al-Suhaili (508-581 H) dalam al-Raudl al-Unuf menulis satu paragraf khusus membahas kedudukan Waraqah bin Naufal di akhirat. Beliau menulis:

 وهو أحد من آمن بالنّبي قبل البعث، وروي الترمذي أن رسول الله قال: (رَأَيْتُه في الْمَنام وعليه ثِيَابٌ بيضٌ، ولو كان مِن أهلِ النّارِ لَمْ يَكنْ عليه ثيابٌ بيضٌ)، وهو حديث في إسناده ضعفٌ، لأنّه يدُور علي عثمان بن عبد الرحمن ولكنْ يُقَوّيه ما يأْتي بعد هذا من قوله صلي الله عليه وسلم: (رأيتُ القسّ-يعني ورقة-وعليه ثيابٌ حَرِيرٌ لِأَنَّهُ أوَّل مَنْ آمن بي وصدّقنِي) ـ “

Waraqah adalah seseorang yang beriman kepada nabi sebelum masa diutus, al-Tirmidzi meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: (Aku melihat Waraqah bin Naufal dalam mimpi, dia mengenakan baju putih. Jika dia termasuk ahli neraka, dia tidak akan mengenakan baju putih). Hadits ini lemah dalam isnadnya karena ada Utsman bin Abdurrahman, tetapi hadits tersebut dikuatkan dengan perkataan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berikut ini: (Aku melihat pendeta—maksudnya Waraqah—dia mengenakan baju sutera, karena dia adalah orang pertama yang beriman kepadaku dan membenarkanku).” (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf Syarh al-Sîrah al-Nabawiyyah lî Ibn Hisyâm, 2008, juz 1, h. 362) Dengan dasar beberapa riwayat di atas, bisa dikatakan bahwa Waraqah bin Naufal termasuk ahli surga seperti yang dikatakan oleh Rasulullah. Salah satu alasan kenapa Waraqah termasuk ahli surga, Imam Abu al-Qasim al-Suhaili mengatakan: “wa kâna yadzkurullaha fî safarihi fîl jâhiliyyah wa yusabbihuhu—(karena) Waraqah bin Naufal (selalu) mengingat Allah dalam (setiap) perjalanannya di masa jahiliyah dan (selalu) bertasbih kepada-Nya.” Sebagai bukti, potongan syair Waraqah bin Naufal perlu ditampilkan: لَقدْ نَصَحْت لأقوام وقلت لهم: أنا النذير فلا يغرُرْكم أحَدٌ, لَا تَعْبُدنّ إلَهًا غيرَ خالِقِكم  “Sungguh telah kunasihati orang-orang, kukatakan pada mereka: aku adalah pengingat, agar kau tak mudah terbujuk orang. Jangan pernah kau sembah tuhan yang bukan penciptamu.” (Imam Abu al-Qasim al-Suhaili, al-Raudl al-Unuf Syarh al-Sîrah al-Nabawiyyah lî Ibn Hisyâm, 2008, juz 1, h. 362)


Senin, 16 Agustus 2021

Muhammad SAW hanyalah seorang rasul

 Surah Ayat Terjemahan Bahasa Indonesia[5][6])

Surah Ali Imran 144 Dan Muhammad hanyalah seorang rasul; sebelumnya telah berlalu beberapa rasul. Apakah jika dia wafat atau dibunuh, kamu berbalik ke belakang (murtad)? Barang siapa berbalik ke belakang, maka dia tidak akan merugikan Allah sedikit pun. Allah akan memberi balasan kepada orang yang bersyukur.

Surah Al-Ahzab 40 Muhammad itu bukanlah bapak dari seseorang di antara kamu, tetapi dia adalah utusan Allah dan penutup para nabi. Dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.

Surah Muhammad 2 Dan orang-orang mukmin dan beramal soleh serta beriman kepada apa yang diturunkan kepada Muhammad dan itulah yang haq dari Tuhan mereka, Allah menghapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan memperbaiki keadaan mereka.

Surah Al-Fath 29 Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku' dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.

Surah As-Saff 6 Dan (ingatlah) ketika Isa ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)". Maka tatkala rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata".

Selasa, 10 Agustus 2021

Allah Maha Pengampunan

 ‘Katakanlah: “Hai hamba-hamba-Ku yang telah berdosa terhadap jiwa mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa akan rahmat Allah, sesungguhnya Allah mengampuni segala dosa. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun, Maha Penyayang”’ (QS.39 Az-Zumar:54).

Orang yang dekat dengan Allah

. "Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran" (QS. al-Baqarah [2]:186).

Allah telah berfirman, “Bahwa sungguh Nabi Muhammad Saw. memiliki budi pekerti yang agung”? (QS Al-Qalam [68]: 4)

Senin, 09 Agustus 2021

Bukanlah menghadapkan wajahmu ke timur dan barat suatu kebaikan Al baqarah 177

 ۞ لَيْسَ الْبِرَّاَنْ تُوَلُّوْا وُجُوْهَكُمْ قِبَلَ الْمَشْرِقِ وَالْمَغْرِبِ وَلٰكِنَّ الْبِرَّ مَنْ اٰمَنَ بِاللّٰهِ وَالْيَوْمِ الْاٰخِرِ وَالْمَلٰۤىِٕكَةِ وَالْكِتٰبِ وَالنَّبِيّٖنَ ۚ وَاٰتَى الْمَالَ عَلٰى حُبِّهٖ ذَوِى الْقُرْبٰى وَالْيَتٰمٰى وَالْمَسٰكِيْنَ وَابْنَ السَّبِيْلِۙ وَالسَّاۤىِٕلِيْنَ وَفىِ الرِّقَابِۚ وَاَقَامَ الصَّلٰوةَ وَاٰتَى الزَّكٰوةَ ۚ وَالْمُوْفُوْنَ بِعَهْدِهِمْ اِذَا عَاهَدُوْا ۚ وَالصّٰبِرِيْنَ فِى الْبَأْسَاۤءِ وَالضَّرَّاۤءِ وَحِيْنَ الْبَأْسِۗ اُولٰۤىِٕكَ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا ۗوَاُولٰۤىِٕكَ هُمُ الْمُتَّقُوْنَ

Terjemahan
Kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, tetapi kebajikan itu ialah (kebajikan) orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat, anak yatim, orang-orang miskin, orang-orang yang dalam perjalanan (musafir), peminta-minta, dan untuk memerdekakan hamba sahaya, yang melaksanakan salat dan menunaikan zakat, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji, dan orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan dan pada masa peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa.
Tafsir Ringkas Kemenag RI
Ayat ini menjelaskan bahwa kebajikan itu bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan ke barat, yaitu salat tanpa dibarengi kekhusyukan dan keikhlasan, karena menghadapkan hal itu bukanlah pekerjaan yang susah. Tetapi kebajikan yang sesungguhnya itu ialah pada hal-hal sebagai berikut. Kebajikan orang yang beriman kepada a) Allah dan tidak menyekutukan-Nya dengan apa pun; b) hari akhir yaitu hari pembalasan segala amal perbuatan selama di dunia, sehingga mendorong manusia untuk selalu berbuat baik; c) malaikat-malaikat yang taat menjalankan perintah Allah dan tidak pernah berbuat maksiat sehingga mendorong manusia untuk meneladani ketaatannya; d) kitab-kitab yang diturunkan kepada para rasul; e) dan nabi-nabi yang selalu menyampaikan kebenaran meskipun banyak yang memusuhinya. Kebajikan orang yang memberikan harta yang dicintainya kepada kerabat yang kurang mampu, anak yatim, karena mereka sudah kehilangan orang tua, sehingga setiap orang beriman patut memberikan kebaikan kepada mereka, orang-orang miskin yang hidupnya serba kekuarangan dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, orang-orang yang dalam perjalanan atau musafir yang kehabisan bekal perjalanan, peminta-minta untuk meringankan penderitaan dan kekurangannya, dan untuk memerdekakan hamba sahaya yang timbul akibat praktik perbudakan. Kebajikan orang yang melaksanakan salat dengan khusyuk dan memenuhi syarat dan rukunnya, menunaikan zakat sesuai ketentuan dan tidak menunda-nunda pelaksanaannya, orang-orang yang menepati janji apabila berjanji dan tidak pernah mengingkarinya, orang yang sabar dalam kemelaratan, penderitaan, dan pada masa peperangan dengan segala kesengsaraan, kepedihan dan berbagai macam kekurangan. Orang yang mempunyai sifat-sifat ini, mereka itulah orang-orang yang benar keimanannya, dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa kepada Allah.

telah kafir orang yg berkata Nabi Isa Tuhan

 Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah  yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta  ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?”. Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Maaidah [5]: 17)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih  berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan  Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maaidah [5]: 72)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Al-Maaidah [5]: 73)

Antara Amal Muslim dan Amal Orang Kafir

Ketiga ayat di atas yang terdapat di dalam suroh yang sama – meskipun tanpa menggunakan bantuan kitab-kitab tafsir – dapat mudah dipahami bahwa Allah Ta’ala menyebut mereka yang mengatakan “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam” dan “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga” sebagai orang-orang yang telah kafir.

Sudah jamak diketahui informasi tentang siapakah kaum yang meyakini serta menyatakan kedua hal tersebut.

Al-Jalalayn dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ketiga ayat di atas menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang telah kafir di dalam ayat-ayat tersebut adalah orang-orang Nasrani. Demikian juga dengan para ulama tafsir lainnya. Mereka satu kata.

Ath-Thobari dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat ke-17 tersebut memulai penjelasannya dengan mengatakan bahwa ayat ini merupakan celaan Allah Ta’la kepada kaum Nasrani.

Al-Jazairy di dalam kitab tafsirnya Aysar At-Tafaasir menafsirkan penggalan ayat laqod kafarolladziniina pada ayat ke-17 tersebut dengan menjelaskan faktor penyebab kekafiran kaum Nasrani, yaitu mereka telah mengingkari kebenaran dan mengatakan kebohongan: “Allah itu adalah Al-Masih Putera Maryam”.

Melalui ketiga ayat tersebut di atas Allah Ta’ala sangat menekankan bahwa kaum Nasrani adalah orang-orang yang telah kafir.  Penegasan yang sangat kuat dari Allah Ta’la dapat diketahui dari huruf “laqod”Laqod merupakan gabungan dua harf: la dan qod. La di sini adalah lam at-taukid (huruf lam yang menyatakan penegasan). Menurut kamus Arab modern Al-Mawrid, la mempunyai makna حقا (haqqon) dan  حتما(hatman) yang berarti sungguh-sungguh, benar-benar, atau sungguh pasti. Sedangkan qod menurut kamus Arab Mu’jam Al-Wasith adalah harf  yang masuk kedalam fi’il maadhi (kata kerja lampau) yang menyatakan penegasan. Jadi, laqod lebih kuat penekanannya dari pada la atau qod saja. Shodaqollahul ‘adzim (Maha Benar Allah Yang Maha Agung – dengan segala firman-Nya). Setiap kata, bahkan huruf yang terangkai di dalam semua ayat Al-Qur’an adalah tepat dan benar. Penggunaan laqod dalam ayat ini sangat tepat dan benar karena kekafiran mereka adalah jenis kekafiran yang paling keji sebagaimana dikatakan oleh Al-Jazairy di dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat ke-17 tersebut.

Ibnu Thawus dan Racun ‘Pemimpin Kafir Tapi Adil itu Lebih Baik’

Allah Ta’ala telah mengkafirkan mereka karena mereka mengimani “Three in one” (baca: Trinitas). Trinitas berarti kesatuan dari tiga. Trinitas dalam Kristen adalah Tiga Tuhan yakni Tuhan Allah, Tuhan Yesus dan Tuhan Roh Kudus dan ketiganya adalah satu. Dogma ini berasal dari paham Platonis yang diajarkan oleh Plato (?-347 SM), dan dianut para pemimpin Gereja sejak abad II (Tony lane 1984). (https://kristolog.com/2013/10/07/runtuhnya-teori-trinitas/)

Doktrin Kristen atau Kristiani tentang Tritunggal atau Trinitas (kata Latin yang secara harfiah berarti “tiga serangkai”, dari kata trinus, “rangkap tiga”)] menyatakan bahwa Allah adalah tiga pribadi atau hipostasis yang sehakikat (konsubstansial)—BapaPutra (YesusKristus), dan Roh Kudus—sebagai “satu Allah dalam tiga Pribadi Ilahi”. (https://id.wikipedia.org/wiki/Tritunggal)

Dengan demikian jelas bahwa Allah Ta’ala telah menvonis kafir pemeluk agama Nasrani. Vonis kafir dari Allah Ta’ala juga dialamatkan kepada pemeluk agama Yahudi. Dalam ayat di bawah ini dapat jelas diketahui bahwa kaum Yahudi mengatakan bahwa Allah punya anak – yaitu Uzair, salah satu ulama kaum Yahudi di masa lalu -. Melalui ayat ini Allah Ta’ala menyamakan mereka dengan kaum Nasrani –  sama-sama meyakini Allah punya anak – . Jadi, kaum Yahudi sama dengan kaum Nasrani, sama-sama disebut telah kafir dan dicela oleh Allah Ta’ala.

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. At-Taubah [9]: 30)

Kesimpulan dan Harapan

Antara vonis tersebut dan sikap kepada para penganut agama-agama selain Islam adalah dua hal yang terpisah dan berbeda. Di satu sisi, pemberian vonis tersebut beserta hukumannya oleh Allah Ta’ala adalah hak-Nya. Di sisi ini juga ada aspek iman dan aplikasi ayat-ayat tersebut. Kedua aspek ini adalah kewajiban bagi Muslim. Sisi ini tidak bisa dan tidak boleh berpengaruh negatif pada sisi satunya, yaitu sikap umat Islam kepada semua manusia, apapun agamanya.

Adanya vonis kafir tersebut mestilah membuat kita kaum Muslim tidak ragu-ragu atau takut untuk meyakini dan menyatakan bahwa kaum kafir adalah sungguh kafir, serta mengimani dan mengaplikasikan ayat-ayat vonis kafir – dalam segala aspek, terutama dalam hal memilih pemimpin/penguasa – terhadap siapapun kaum kafir, yang mana kenyataannya memang tidak beriman kepada Allah Ta’ala, dan kepada Nabi Muhammad Shollallahu ‘alayhi wa sallam.

Jangan jadikan ayat-ayat vonis kafir tersebut sebagai dalil (karena memang bukan dalil) sebagai pembenaran untuk berlaku dzolim kepada kaum beragama di luar agama kita, termasuk kaum Nasrani dan Yahudi. Juga jangan jadikan sebagai penghalang (karena memang bukan penghalang) bagi kita untuk menunjukkan sikap toleransi agama – yang dibenarkan agama kita -, serta sikap-sikap baik lainnya kepada mereka, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh tokoh suri teladan utama dan pertama kita, Nabi Muhammad Shollallahu ‘alayhi wa sallam beserta para shohabah Rodhiyallahu ‘anhum. Wallahu a’lam.*Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah  yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta  ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?”. Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Maaidah [5]: 17)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih  berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan  Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maaidah [5]: 72)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Al-Maaidah [5]: 73)

Antara Amal Muslim dan Amal Orang Kafir

Ketiga ayat di atas yang terdapat di dalam suroh yang sama – meskipun tanpa menggunakan bantuan kitab-kitab tafsir – dapat mudah dipahami bahwa Allah Ta’ala menyebut mereka yang mengatakan “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam” dan “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga” sebagai orang-orang yang telah kafir.

Sudah jamak diketahui informasi tentang siapakah kaum yang meyakini serta menyatakan kedua hal tersebut.

Al-Jalalayn dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ketiga ayat di atas menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang telah kafir di dalam ayat-ayat tersebut adalah orang-orang Nasrani. Demikian juga dengan para ulama tafsir lainnya. Mereka satu kata.

Ath-Thobari dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat ke-17 tersebut memulai penjelasannya dengan mengatakan bahwa ayat ini merupakan celaan Allah Ta’la kepada kaum Nasrani.

Al-Jazairy di dalam kitab tafsirnya Aysar At-Tafaasir menafsirkan penggalan ayat laqod kafarolladziniina pada ayat ke-17 tersebut dengan menjelaskan faktor penyebab kekafiran kaum Nasrani, yaitu mereka telah mengingkari kebenaran dan mengatakan kebohongan: “Allah itu adalah Al-Masih Putera Maryam”.

Melalui ketiga ayat tersebut di atas Allah Ta’ala sangat menekankan bahwa kaum Nasrani adalah orang-orang yang telah kafir.  Penegasan yang sangat kuat dari Allah Ta’la dapat diketahui dari huruf “laqod”Laqod merupakan gabungan dua harf: la dan qod. La di sini adalah lam at-taukid (huruf lam yang menyatakan penegasan). Menurut kamus Arab modern Al-Mawrid, la mempunyai makna حقا (haqqon) dan  حتما(hatman) yang berarti sungguh-sungguh, benar-benar, atau sungguh pasti. Sedangkan qod menurut kamus Arab Mu’jam Al-Wasith adalah harf  yang masuk kedalam fi’il maadhi (kata kerja lampau) yang menyatakan penegasan. Jadi, laqod lebih kuat penekanannya dari pada la atau qod saja. Shodaqollahul ‘adzim (Maha Benar Allah Yang Maha Agung – dengan segala firman-Nya). Setiap kata, bahkan huruf yang terangkai di dalam semua ayat Al-Qur’an adalah tepat dan benar. Penggunaan laqod dalam ayat ini sangat tepat dan benar karena kekafiran mereka adalah jenis kekafiran yang paling keji sebagaimana dikatakan oleh Al-Jazairy di dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat ke-17 tersebut.

Ibnu Thawus dan Racun ‘Pemimpin Kafir Tapi Adil itu Lebih Baik’

Allah Ta’ala telah mengkafirkan mereka karena mereka mengimani “Three in one” (baca: Trinitas). Trinitas berarti kesatuan dari tiga. Trinitas dalam Kristen adalah Tiga Tuhan yakni Tuhan Allah, Tuhan Yesus dan Tuhan Roh Kudus dan ketiganya adalah satu. Dogma ini berasal dari paham Platonis yang diajarkan oleh Plato (?-347 SM), dan dianut para pemimpin Gereja sejak abad II (Tony lane 1984). (https://kristolog.com/2013/10/07/runtuhnya-teori-trinitas/)

Doktrin Kristen atau Kristiani tentang Tritunggal atau Trinitas (kata Latin yang secara harfiah berarti “tiga serangkai”, dari kata trinus, “rangkap tiga”)] menyatakan bahwa Allah adalah tiga pribadi atau hipostasis yang sehakikat (konsubstansial)—BapaPutra (YesusKristus), dan Roh Kudus—sebagai “satu Allah dalam tiga Pribadi Ilahi”. (https://id.wikipedia.org/wiki/Tritunggal)

Dengan demikian jelas bahwa Allah Ta’ala telah menvonis kafir pemeluk agama Nasrani. Vonis kafir dari Allah Ta’ala juga dialamatkan kepada pemeluk agama Yahudi. Dalam ayat di bawah ini dapat jelas diketahui bahwa kaum Yahudi mengatakan bahwa Allah punya anak – yaitu Uzair, salah satu ulama kaum Yahudi di masa lalu -. Melalui ayat ini Allah Ta’ala menyamakan mereka dengan kaum Nasrani –  sama-sama meyakini Allah punya anak – . Jadi, kaum Yahudi sama dengan kaum Nasrani, sama-sama disebut telah kafir dan dicela oleh Allah Ta’ala.

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. At-Taubah [9]: 30)

Kesimpulan dan Harapan

Antara vonis tersebut dan sikap kepada para penganut agama-agama selain Islam adalah dua hal yang terpisah dan berbeda. Di satu sisi, pemberian vonis tersebut beserta hukumannya oleh Allah Ta’ala adalah hak-Nya. Di sisi ini juga ada aspek iman dan aplikasi ayat-ayat tersebut. Kedua aspek ini adalah kewajiban bagi Muslim. Sisi ini tidak bisa dan tidak boleh berpengaruh negatif pada sisi satunya, yaitu sikap umat Islam kepada semua manusia, apapun agamanya.

Adanya vonis kafir tersebut mestilah membuat kita kaum Muslim tidak ragu-ragu atau takut untuk meyakini dan menyatakan bahwa kaum kafir adalah sungguh kafir, serta mengimani dan mengaplikasikan ayat-ayat vonis kafir – dalam segala aspek, terutama dalam hal memilih pemimpin/penguasa – terhadap siapapun kaum kafir, yang mana kenyataannya memang tidak beriman kepada Allah Ta’ala, dan kepada Nabi Muhammad Shollallahu ‘alayhi wa sallam.

Jangan jadikan ayat-ayat vonis kafir tersebut sebagai dalil (karena memang bukan dalil) sebagai pembenaran untuk berlaku dzolim kepada kaum beragama di luar agama kita, termasuk kaum Nasrani dan Yahudi. Juga jangan jadikan sebagai penghalang (karena memang bukan penghalang) bagi kita untuk menunjukkan sikap toleransi agama – yang dibenarkan agama kita -, serta sikap-sikap baik lainnya kepada mereka, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh tokoh suri teladan utama dan pertama kita, Nabi Muhammad Shollallahu ‘alayhi wa sallam beserta para shohabah Rodhiyallahu ‘anhum. Wallahu a’lam.*Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah  yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta  ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?”. Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Maaidah [5]: 17)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih  berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan  Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maaidah [5]: 72)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Al-Maaidah [5]: 73)

Antara Amal Muslim dan Amal Orang Kafir

Ketiga ayat di atas yang terdapat di dalam suroh yang sama – meskipun tanpa menggunakan bantuan kitab-kitab tafsir – dapat mudah dipahami bahwa Allah Ta’ala menyebut mereka yang mengatakan “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam” dan “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga” sebagai orang-orang yang telah kafir.

Sudah jamak diketahui informasi tentang siapakah kaum yang meyakini serta menyatakan kedua hal tersebut.

Al-Jalalayn dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ketiga ayat di atas menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang telah kafir di dalam ayat-ayat tersebut adalah orang-orang Nasrani. Demikian juga dengan para ulama tafsir lainnya. Mereka satu kata.

Ath-Thobari dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat ke-17 tersebut memulai penjelasannya dengan mengatakan bahwa ayat ini merupakan celaan Allah Ta’la kepada kaum Nasrani.

Al-Jazairy di dalam kitab tafsirnya Aysar At-Tafaasir menafsirkan penggalan ayat laqod kafarolladziniina pada ayat ke-17 tersebut dengan menjelaskan faktor penyebab kekafiran kaum Nasrani, yaitu mereka telah mengingkari kebenaran dan mengatakan kebohongan: “Allah itu adalah Al-Masih Putera Maryam”.

Melalui ketiga ayat tersebut di atas Allah Ta’ala sangat menekankan bahwa kaum Nasrani adalah orang-orang yang telah kafir.  Penegasan yang sangat kuat dari Allah Ta’la dapat diketahui dari huruf “laqod”Laqod merupakan gabungan dua harf: la dan qod. La di sini adalah lam at-taukid (huruf lam yang menyatakan penegasan). Menurut kamus Arab modern Al-Mawrid, la mempunyai makna حقا (haqqon) dan  حتما(hatman) yang berarti sungguh-sungguh, benar-benar, atau sungguh pasti. Sedangkan qod menurut kamus Arab Mu’jam Al-Wasith adalah harf  yang masuk kedalam fi’il maadhi (kata kerja lampau) yang menyatakan penegasan. Jadi, laqod lebih kuat penekanannya dari pada la atau qod saja. Shodaqollahul ‘adzim (Maha Benar Allah Yang Maha Agung – dengan segala firman-Nya). Setiap kata, bahkan huruf yang terangkai di dalam semua ayat Al-Qur’an adalah tepat dan benar. Penggunaan laqod dalam ayat ini sangat tepat dan benar karena kekafiran mereka adalah jenis kekafiran yang paling keji sebagaimana dikatakan oleh Al-Jazairy di dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat ke-17 tersebut.

Ibnu Thawus dan Racun ‘Pemimpin Kafir Tapi Adil itu Lebih Baik’

Allah Ta’ala telah mengkafirkan mereka karena mereka mengimani “Three in one” (baca: Trinitas). Trinitas berarti kesatuan dari tiga. Trinitas dalam Kristen adalah Tiga Tuhan yakni Tuhan Allah, Tuhan Yesus dan Tuhan Roh Kudus dan ketiganya adalah satu. Dogma ini berasal dari paham Platonis yang diajarkan oleh Plato (?-347 SM), dan dianut para pemimpin Gereja sejak abad II (Tony lane 1984). (https://kristolog.com/2013/10/07/runtuhnya-teori-trinitas/)

Doktrin Kristen atau Kristiani tentang Tritunggal atau Trinitas (kata Latin yang secara harfiah berarti “tiga serangkai”, dari kata trinus, “rangkap tiga”)] menyatakan bahwa Allah adalah tiga pribadi atau hipostasis yang sehakikat (konsubstansial)—BapaPutra (YesusKristus), dan Roh Kudus—sebagai “satu Allah dalam tiga Pribadi Ilahi”. (https://id.wikipedia.org/wiki/Tritunggal)

Dengan demikian jelas bahwa Allah Ta’ala telah menvonis kafir pemeluk agama Nasrani. Vonis kafir dari Allah Ta’ala juga dialamatkan kepada pemeluk agama Yahudi. Dalam ayat di bawah ini dapat jelas diketahui bahwa kaum Yahudi mengatakan bahwa Allah punya anak – yaitu Uzair, salah satu ulama kaum Yahudi di masa lalu -. Melalui ayat ini Allah Ta’ala menyamakan mereka dengan kaum Nasrani –  sama-sama meyakini Allah punya anak – . Jadi, kaum Yahudi sama dengan kaum Nasrani, sama-sama disebut telah kafir dan dicela oleh Allah Ta’ala.

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. At-Taubah [9]: 30)

Kesimpulan dan Harapan

Antara vonis tersebut dan sikap kepada para penganut agama-agama selain Islam adalah dua hal yang terpisah dan berbeda. Di satu sisi, pemberian vonis tersebut beserta hukumannya oleh Allah Ta’ala adalah hak-Nya. Di sisi ini juga ada aspek iman dan aplikasi ayat-ayat tersebut. Kedua aspek ini adalah kewajiban bagi Muslim. Sisi ini tidak bisa dan tidak boleh berpengaruh negatif pada sisi satunya, yaitu sikap umat Islam kepada semua manusia, apapun agamanya.

Adanya vonis kafir tersebut mestilah membuat kita kaum Muslim tidak ragu-ragu atau takut untuk meyakini dan menyatakan bahwa kaum kafir adalah sungguh kafir, serta mengimani dan mengaplikasikan ayat-ayat vonis kafir – dalam segala aspek, terutama dalam hal memilih pemimpin/penguasa – terhadap siapapun kaum kafir, yang mana kenyataannya memang tidak beriman kepada Allah Ta’ala, dan kepada Nabi Muhammad Shollallahu ‘alayhi wa sallam.

Jangan jadikan ayat-ayat vonis kafir tersebut sebagai dalil (karena memang bukan dalil) sebagai pembenaran untuk berlaku dzolim kepada kaum beragama di luar agama kita, termasuk kaum Nasrani dan Yahudi. Juga jangan jadikan sebagai penghalang (karena memang bukan penghalang) bagi kita untuk menunjukkan sikap toleransi agama – yang dibenarkan agama kita -, serta sikap-sikap baik lainnya kepada mereka, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh tokoh suri teladan utama dan pertama kita, Nabi Muhammad Shollallahu ‘alayhi wa sallam beserta para shohabah Rodhiyallahu ‘anhum. Wallahu a’lam.*Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam”. Katakanlah: “Maka siapakah  yang dapat menghalang-halangi kehendak Allah, jika Dia hendak membinasakan Al Masih putera Maryam itu beserta  ibunya dan seluruh orang-orang yang berada di bumi kesemuanya?”. Kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya; Dia menciptakan apa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Al-Maaidah [5]: 17)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ

Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah ialah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih  berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu”. Sesungguhnya orang yang mempersekutukan  Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun. (QS. Al-Maaidah [5]: 72)

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ ثَالِثُ ثَلَاثَةٍ وَمَا مِنْ إِلَهٍ إِلَّا إِلَهٌ وَاحِدٌ وَإِنْ لَمْ يَنْتَهُوا عَمَّا يَقُولُونَ لَيَمَسَّنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

Sesungguhnya kafirlah orang-orang yang mengatakan: “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga”, padahal sekali-kali tidak ada Tuhan selain dari Tuhan Yang Esa. Jika mereka tidak berhenti dari apa yang mereka katakan itu, pasti orang-orang yang kafir diantara mereka akan ditimpa siksaan yang pedih. (Al-Maaidah [5]: 73)

Antara Amal Muslim dan Amal Orang Kafir

Ketiga ayat di atas yang terdapat di dalam suroh yang sama – meskipun tanpa menggunakan bantuan kitab-kitab tafsir – dapat mudah dipahami bahwa Allah Ta’ala menyebut mereka yang mengatakan “Sesungguhnya Allah itu ialah Al Masih putera Maryam” dan “Bahwasanya Allah salah seorang dari yang tiga” sebagai orang-orang yang telah kafir.

Sudah jamak diketahui informasi tentang siapakah kaum yang meyakini serta menyatakan kedua hal tersebut.

Al-Jalalayn dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ketiga ayat di atas menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan orang-orang yang telah kafir di dalam ayat-ayat tersebut adalah orang-orang Nasrani. Demikian juga dengan para ulama tafsir lainnya. Mereka satu kata.

Ath-Thobari dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat ke-17 tersebut memulai penjelasannya dengan mengatakan bahwa ayat ini merupakan celaan Allah Ta’la kepada kaum Nasrani.

Al-Jazairy di dalam kitab tafsirnya Aysar At-Tafaasir menafsirkan penggalan ayat laqod kafarolladziniina pada ayat ke-17 tersebut dengan menjelaskan faktor penyebab kekafiran kaum Nasrani, yaitu mereka telah mengingkari kebenaran dan mengatakan kebohongan: “Allah itu adalah Al-Masih Putera Maryam”.

Melalui ketiga ayat tersebut di atas Allah Ta’ala sangat menekankan bahwa kaum Nasrani adalah orang-orang yang telah kafir.  Penegasan yang sangat kuat dari Allah Ta’la dapat diketahui dari huruf “laqod”Laqod merupakan gabungan dua harf: la dan qod. La di sini adalah lam at-taukid (huruf lam yang menyatakan penegasan). Menurut kamus Arab modern Al-Mawrid, la mempunyai makna حقا (haqqon) dan  حتما(hatman) yang berarti sungguh-sungguh, benar-benar, atau sungguh pasti. Sedangkan qod menurut kamus Arab Mu’jam Al-Wasith adalah harf  yang masuk kedalam fi’il maadhi (kata kerja lampau) yang menyatakan penegasan. Jadi, laqod lebih kuat penekanannya dari pada la atau qod saja. Shodaqollahul ‘adzim (Maha Benar Allah Yang Maha Agung – dengan segala firman-Nya). Setiap kata, bahkan huruf yang terangkai di dalam semua ayat Al-Qur’an adalah tepat dan benar. Penggunaan laqod dalam ayat ini sangat tepat dan benar karena kekafiran mereka adalah jenis kekafiran yang paling keji sebagaimana dikatakan oleh Al-Jazairy di dalam kitab tafsirnya ketika menafsirkan ayat ke-17 tersebut.

Ibnu Thawus dan Racun ‘Pemimpin Kafir Tapi Adil itu Lebih Baik’

Allah Ta’ala telah mengkafirkan mereka karena mereka mengimani “Three in one” (baca: Trinitas). Trinitas berarti kesatuan dari tiga. Trinitas dalam Kristen adalah Tiga Tuhan yakni Tuhan Allah, Tuhan Yesus dan Tuhan Roh Kudus dan ketiganya adalah satu. Dogma ini berasal dari paham Platonis yang diajarkan oleh Plato (?-347 SM), dan dianut para pemimpin Gereja sejak abad II (Tony lane 1984). (https://kristolog.com/2013/10/07/runtuhnya-teori-trinitas/)

Doktrin Kristen atau Kristiani tentang Tritunggal atau Trinitas (kata Latin yang secara harfiah berarti “tiga serangkai”, dari kata trinus, “rangkap tiga”)] menyatakan bahwa Allah adalah tiga pribadi atau hipostasis yang sehakikat (konsubstansial)—BapaPutra (YesusKristus), dan Roh Kudus—sebagai “satu Allah dalam tiga Pribadi Ilahi”. (https://id.wikipedia.org/wiki/Tritunggal)

Dengan demikian jelas bahwa Allah Ta’ala telah menvonis kafir pemeluk agama Nasrani. Vonis kafir dari Allah Ta’ala juga dialamatkan kepada pemeluk agama Yahudi. Dalam ayat di bawah ini dapat jelas diketahui bahwa kaum Yahudi mengatakan bahwa Allah punya anak – yaitu Uzair, salah satu ulama kaum Yahudi di masa lalu -. Melalui ayat ini Allah Ta’ala menyamakan mereka dengan kaum Nasrani –  sama-sama meyakini Allah punya anak – . Jadi, kaum Yahudi sama dengan kaum Nasrani, sama-sama disebut telah kafir dan dicela oleh Allah Ta’ala.

وَقَالَتِ الْيَهُودُ عُزَيْرٌ ابْنُ اللَّهِ وَقَالَتِ النَّصَارَى الْمَسِيحُ ابْنُ اللَّهِ ذَلِكَ قَوْلُهُمْ بِأَفْوَاهِهِمْ يُضَاهِئُونَ قَوْلَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ قَبْلُ قَاتَلَهُمُ اللَّهُ أَنَّى يُؤْفَكُونَ

Orang-orang Yahudi berkata: “Uzair itu putera Allah” dan orang-orang Nasrani berkata: “Al Masih itu putera Allah”. Demikianlah itu ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah mereka , bagaimana mereka sampai berpaling? (QS. At-Taubah [9]: 30)

Kesimpulan dan Harapan

Antara vonis tersebut dan sikap kepada para penganut agama-agama selain Islam adalah dua hal yang terpisah dan berbeda. Di satu sisi, pemberian vonis tersebut beserta hukumannya oleh Allah Ta’ala adalah hak-Nya. Di sisi ini juga ada aspek iman dan aplikasi ayat-ayat tersebut. Kedua aspek ini adalah kewajiban bagi Muslim. Sisi ini tidak bisa dan tidak boleh berpengaruh negatif pada sisi satunya, yaitu sikap umat Islam kepada semua manusia, apapun agamanya.

Adanya vonis kafir tersebut mestilah membuat kita kaum Muslim tidak ragu-ragu atau takut untuk meyakini dan menyatakan bahwa kaum kafir adalah sungguh kafir, serta mengimani dan mengaplikasikan ayat-ayat vonis kafir – dalam segala aspek, terutama dalam hal memilih pemimpin/penguasa – terhadap siapapun kaum kafir, yang mana kenyataannya memang tidak beriman kepada Allah Ta’ala, dan kepada Nabi Muhammad Shollallahu ‘alayhi wa sallam.

Jangan jadikan ayat-ayat vonis kafir tersebut sebagai dalil (karena memang bukan dalil) sebagai pembenaran untuk berlaku dzolim kepada kaum beragama di luar agama kita, termasuk kaum Nasrani dan Yahudi. Juga jangan jadikan sebagai penghalang (karena memang bukan penghalang) bagi kita untuk menunjukkan sikap toleransi agama – yang dibenarkan agama kita -, serta sikap-sikap baik lainnya kepada mereka, sebagaimana yang telah dicontohkan oleh tokoh suri teladan utama dan pertama kita, Nabi Muhammad Shollallahu ‘alayhi wa sallam beserta para shohabah Rodhiyallahu ‘anhum. Wallahu a’lam.*