Senin, 31 Mei 2021

Menjawab Pertanyaan Apologet Kristen tentang Nabi Isa As. Hakim yang Adil

 Berdasarkan dalil berikut ini, misionaris Kristen menyatakan bahwa Yesus adalah Hakim Yang Adil pada hari kiamat (bahkan setelahnya), dan hal itu dikuatkan oleh Hadits Nabi Muhammad Shallallahu alayhi wa salam sendiri. 


“Dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sudah dekat saatnya di mana akan turun pada kalian (‘Isa) Ibnu Maryam Alayhi salam sebagai hakim yang adil. (Muttafaqun ‘alaih)

Bagi yang pernah membaca Hadits aslinya, maka membaca kalimat di atas ini langsung mengerti bahwa ini adalah Hadits yang "dimutilasi", karena nampak sekali para sales produk kadaluwarsa bermerek "Ajaran Kasih" Kristen ini ingin mengaitkannya dengan  QS. At-Tiin: 8 yang menegaskan bahwa hanya Allah lah hakim yang adil. Tidak dapat disangkal lagi bahwa menurut kitab suci Islam sendiri, memang hanya Allah lah hakim yang paling adil, bukan? 

Berbekal dua potong dalil ini mereka berharap, bahkan optimis akan sukses meyakinkan dan mengajak semua orang, khususnya umat Nabi Muhammad Shallallahu alayhi wa salam, untuk mengakui bahwa Yesus adalah Tuhan. Yesus adalah Allah sesuai dengan dalil-dalil yang tertulis di dalam Al-Quran dan Hadits, sumber dari segala sumber hukum dalam ajaran islam sendiri! 

Dengan modal dalil yang maknanya dibelokkan di sana-sini semisal potongan hadits di atas, mereka tidak sungkan-sungkan berusaha mengajak umat Islam untuk menjadi umat kuffar dan murtad dari Islam dengan mengakui Isa Almasih, atau yang mereka sebut sebagai Yesus Kristus, sebagai Tuhan.

KAJIAN

Sebelum menanggapi isu di atas, maka sekedar mengingatkan saja; bagi siapapun yang mengerti ilmunya, pasti akan tertawa geli menyaksikan tingkah bodoh dan upaya menyedihkan para pemfitnah ajaran Islam ini. 

Tapi demi ilmu, mari kita kupas saja isu di atas dari beberapa sisi agar terang benderang membuktikan kebodohan para misionaris karbitan yang coba bicara tentang ajaran Islam ini.

A. DARI SISI DALIL 

Hadits lengkap di atas seharusnya tertulis begini:

Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسِيْ بِيَدِهِ، لَيُوْشِكَنَّ أَنْ يَنْزِلَ فِيْكُمُ ابْنُ مَرْيَمَ عَليهِ السَّلام حَكَمًا عَدْلاً، فَيَكْسِرَ الصَّلِيْبَ، وَيَقْتُلَ الْخِنْزِيْرَ، وَيَضَعَ الْجِزْيَةَ، وَيَفِيْضَ الْمَالُ حَتَّى لاَ يَقْبَلَهُ أَحَدٌ.

“Dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sudah dekat saatnya di mana akan turun pada kalian (‘Isa) Ibnu Maryam Alayhi salam sebagai hakim yang adil. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapus jizyah (upeti/pajak), dan akan melimpah ruah harta benda, hingga tidak ada seorang pun yang mau menerimanya.” [Muttafaqun ‘alaih]

Perhatikanlah, bahwa sejak awal mereka sudah memelintir dalil yang mereka tampilkan untuk menjungkir-balikkan pesan sebenarnya dari Hadits Rasulullah Shallallahu alayhi wa salam tsb. 
Menurut dalil ini, Nabi Muhammad Shallallahu alayhi wa salam menubuatkan bahwa kelak Nabi Isa alayhi salam akan turun kembali ke bumi untuk menjadi hakim yang adil bagi umat manusia yang berselisih paham tentang ajarannya dan bagi mereka yang mengaku sebagai pengikutnya tapi secara terang-terangan justru menentang ajarannya. Beliau akan memulai misi kedua dan sekaligus misi pamungkasnya di dunia dengan tindakan-tindakan khusus terhadap ajaran Kristen dan segala atributnya yang dilambangkan dengan menghancurkan salib, membunuh babi, dan menghapus jizyah.
Hadits ini sangat jelas mengindikasikan bahwa kedatangan Nabi Isa alayhi salam untuk kedua kalinya ini berhubungan langsung dengan umat yang terkait dengan ajaran beliau, yaitu Yahudi dan Kristen, sementara pada hadits lain dinubuatkan juga beberapa hal terkait dengan umat dan syarai'ah Islam.
Dari sini, jelas terlihat kenapa pengikut rasul gadung penuh roh dusta dan licik ini coba meneyembunyikan pesan utama Hadits di atas dengan cara memotong habis semua bagian yang sebenarnya sangat mengancam "kenyamanan" iman kosong mereka selama ini. Dan sebagai gantinya, mereka berusaha keras untuk membelokkan muatan Hadits yang seharusnya menjadi bahan perenungan dan kajian mendalam bagi mereka sendiri, menjadi usaha yang sangat menyedihkan untuk menyesatkan umat Islam dengan isu pokok, yaitu pertanyaan tentang SIAPA HAKIM YANG ADIL? 
Artinya, walau sudah terang-terangan diperingatkan oleh nubuatan Rasulullah Shallallahu alayhi wa salam lewat hadits tsb, mereka tetap mengharapkan pengakuan bahwa iman mereka yang menuhankan Nabi Isa alayhi salam tidak salah, karena menurut Al-Quran dan Hadits yang mereka kutip di atas, Nabi yang mereka tuhankan itu sebetulnya adalah Tuhan itu sendiri.

B. DARI SISI KALIMAT "HAKIM YANG ADIL"

Bacalah lagi dengan cermat kata per kata yang ditulis dalam bahasa aslinya, Arab, pada rangkaian kalimat Hadits di atas di mana menurut terjemah bahasa Indonesianya di artikan sebagai "Hakim Yang Adil" dari kata yang dalam bahasa aslinya disebut dan dimaknai sebagai "Hakaman Adlan" = حَكَمًا عَدْلاً 

Apakah kata "Hakim Yang Adil" yang digunakan dalam hadits di atas sama arti dan maknanya dengan kata "Hakim Yang Paling Adil" dalam QS. At-Tiin: 8?

Perhatikan ini!

أَلَيْسَ اللَّهُ بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ 
Alaisallahu bi-ahkamil haakimiin  

Bukankah Allah hakim yang paling adil? (QS. At-Tiin: 8)

Kata yang digunakan adalah bi ahkamil haakimiin (بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ)

Mari secara ringkas saja kita cermati bentuk kata yang digunakan pada masing-masing ayat Hadits dan Al-Quran di atas, sekaligus kita buktikan apakah menurut kaidah tata-bahasa Arab ada persamaan atau perbedaan arti dari keduanya.

Asal kata bi ahkamil (بِأَحْكَمِ) adalah kata sifat yaitu suatu keadaan sebagai pembanding dengan yang lainnya. Jadi arti kata بِأَحْكَمِ adalah lebih bijaksana; seadil-adilnya; paling adil di antara semua yang adil.

Sementara kata al Hakimiin (الْحَاكِمِينَ) artinya adalah para hakim atau hakim-hakim, merupakan bentuk jamak dari kata Hakim. 

Jadi, ayat itu menerangkan bahwa Allah adalah bi ahkamil haakimiin  (بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ) atau hakim paling adil, paling bijaksana di antara semua hakim.

Sedangkan ayat dalam hadits menunjukkan bahwa Hakim yang dimaksud jumlahnya lebih dari satu, bahkan sangat banyak, bisa ratusan, ribuan, bisa juga jutaan, sehingga digambarkan dengan menggunakan kata al Hakimiin  (الْحَاكِمِينَ)  yang artinya adalah para hakim atau hakim-hakim. 

Maksudnya jelas, bahwa Nabi Isa alayhi salam beserta hakim-hakim adil lainnya termasuk di di antara mereka yang disebut sebagai "Hakim Yang Adil" di dalam Hadits.

Dari sedikit penjelasan ini, sekarang kita tahu bahwa pengertian "Hakim Yang Adil" yang dinisbatkan kepada Nabi Isa alayhi salam dalam Hadits sangat berbeda dengan "Hakim Yang Paling Adil" yang menggambarkan Maha Adilnya penghakiman Allah menurut Al-Quran.

Nabi Isa alayhi salam digambarkan sebagai "Hakim Yang Adil", bukan "Hakim Yang Paling Adil", Sedangkan Allah adalah satu-satunya Hakim Yang Paling Adil, Paling Bijaksana, sesuai dengan sifat-Nya sebagai Tuhan bagi seluruh makhluk Yang Maha Bijaksana, Maha Adil (lihat lagi Asma'ul Husna).

Di samping Hakim yang tidak adil, di dunia ini Hakim yang adil juga sangat banyak, seperti yang diterangkan dalam Al-Quran Surah At-Tiin yang menggunakan bentuk jamak untuk kata Hakim. Dan Nabi Isaalayhi salam adalah salahsatu dari Hakim-Hakim ini.

Di dalam Al-Quran, Hakim memang diperintah oleh Allah untuk berbuat adil, karena ini memang syarat mutlak sebagai seorang Hakim. Jadi, terlepas dia adil atau tidak, tapi hakim (yang wajib berlaku) adil itu tentu saja jumlahnya sangat banyak!

Perhatikan ayat lainnya,

وَإِنْ حَكَمْتَ فَاحْكُمْ بَيْنَهُمْ بِالْقِسْطِ إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُقْسِطِينَ
wa-in hakamta faahkum bainahum bil qisthi innallaha yuhibbul muqsithiin

Dan jika “hakamta” (kamu menghakimi) mereka, “fa ahkam (maka hakimi perkara itu) di antara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil. (QS. Al- Maidah: 42).

Ayat tersebut menjelaskan bahwa perintah untuk menghakimi yang di dalam ayat tersebut menggunakan kata حَكَمْتَ (hakamta = kamu menghakimi), maka hakimilah (menggunakan kata fa ahkam = فَاحْكُمْ) dengan adil. Jadi, hakim yang adil itu banyak, bukan hanya satu. Tetapi hakim yang paling adil atau paling bijaksana, menggunakan kata بِأَحْكَمِ الْحَاكِمِينَ  bi ahkamil haakimiin dan itu hanya untuk Allah saja (QS. At-Tiin: 8).

C. DARI SISI WAKTU 

Perhatikan lagi Hadits di atas!

“Dan demi jiwaku yang berada di tangan-Nya, sudah dekat saatnya di mana akan turun pada kalian (‘Isa) Ibnu Maryam Alaihissallam sebagai hakim yang adil.”

Menurut Hadits ini Nabi Isa alayhi salam dinubuatkan akan turun ke dunia, kemudian menjadi hakim yang adil di dunia, sebelum kiamat terjadi. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan Hari Penghakiman setelah terjadinya kiamat, di mana Allah lah sebagai satu-satunya Hakim yang akan mengadili seluruh makhluk-Nya (yang dibangkitkan dari kematian pada saat terjadinya kiamat) untuk mempetanggungjawabkan segala perbuatannya selama hidup di dunia, termasuk di dalam hal ini adalah nabi Isa alayhi salam sendiri yang sudah lebih dulu wafat sebelum kiamat terjadi! 

Perhatikan ayat berikut ini,

يَوْمَ هُمْ بَارِزُونَ لَا يَخْفَى عَلَى اللَّهِ مِنْهُمْ شَيْءٌ لِمَنِ الْمُلْكُ الْيَوْمَ لِلَّهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ 
 الْيَوْمَ تُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا كَسَبَتْ لَا ظُلْمَ الْيَوْمَ إِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ
 
Yauma hum baarizuuna laa yakhfa ‘alallahi minhum syayun limanil mulkul yauma lillahil waahidil qahhaar(i); Al-yauma tujza kullu nafsin bimaa kasabat laa zhulmal yauma innallaha sarii’ul hisaab(i);

(Yaitu) hari (ketika) mereka keluar (dari kubur dan menuju mahsyar); tiada suatupun dari keadaan mereka yang tersembunyi bagi Allah. (Lalu Allah berfirman): “Kepunyaan siapakah kerajaan pada hari ini?” Kepunyaan Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa. Pada hari ini tiap-tiap jiwa diberi balasan dengan apa yang diusahakannya. Tidak ada yang dirugikan pada hari ini. Sesungguhnya Allah amat cepat hisab-Nya. (QS. Al-Mu'min: 16-17).

إِنَّ إِلَيْنَا إِيَابَهُمْ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا حِسَابَهُمْ
Inna ilainaa iyaabahum;Tsumma inna ‘alainaa hisaabahum;

“Sungguh, kepada Kami-lah mereka kembali. kemudian sesungguhnya (kewajiban) Kami-lah membuat perhitungan atas mereka.” (QS. Al-Ghasyiyah: 25-26).

Dari ‘Abdullah ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يَجْمَعُ اللهُ الأَوَّلِيْنَ وَالآخِرِيْنَ لِمِيْقَاتِ يَوْمٍ مَعْلُوْمٍ قِيَامًا أَرْبَعِيْنَ سَنَةً شَاخِصَةً أَبْصَارُهُمْ يَنْتَظِرُوْنَ فَصْلَ الْقَضَاءِ

“Allah mengumpulkan semua manusia dari yang pertama sampai yang terakhir, pada waktu hari tertentu dalam keadaan berdiri selama empat puluh tahun. Pandangan-pandangan mereka menatap (ke langit), menanti pengadilan Allah.” [Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ad-Dunya dan ath-Thabrani]

Dan masih banyak lagi dalil-dalil sejenis lainnya, baik dalam Al-Quran maupun Hadits yang menjelaskan tentang pengadilan Allah di Yaumil Mahsyar kelak. Tetapi cukuplah ini saja untuk memberikan pengetahuan yang benar tentang kapan pengadilan Nabi Isa alayhi salam berlangsung dan kapan pula Pengadilan Allah akan dilaksanakan.

Tapi jika para salesmen produk kadaluwarsa bermerek "ajaran kasih" Kristen masih ingin memperjuangkan dalil hebat yang mereka pikir sakti di atas tadi padahal mudah sekali dibuktikan sebagai dalil ngawur, maka silahkan saja.

Carilah sendiri di dalam Al-Quran; cukup satu kata saja yang menyebutkan bahwa Nabi Isa alayhi salam akan mengadili manusia di hari penghakiman Allah di akhirat kelak! 

Anggap saja ini sebagai tantangan dari umat Islam yang berlaku seumur hidup, bahkan sampai 7 turunan semua umat kristen di seluruh dunia! 

Silahkan!
Ditunggu!

Menjawab Pak Muhamadkece - Pak Kece Tentang Jin Dalam Al Qur'an

 Al Qur’an menyebut kata manusia atau “ins” beberapa kali dalam Al Qur’an, Uniknya, kata  manusia dalam Al Qur’an itu selalu berdampingan dengan kata “jin”. Tulisan ini akan menjelaskannya dengan gamblang.

Insun (إنس) dalam logat Arab merupakan turunan dari kata verbal anasa (أنس) yang bermakna berteman. Insun dalam Al Qur’an sering dipergunakan secara bersama-sama dengan kata al-jinn (الجن).

Setidaknya ada lima ayat berhasil diidentifikasi yang menggunakan lafal إنس ini, yaitu, Surat Al-An’am ayat 112 dan 128, Surat Al-Isra ayat 88, Surat An-Naml ayat 17 dan Surat Al-Jin ayat 5. Jika diurutkan menurut tertib turunnya ayat akan menjadi: Surat Al-Jin ayat 5, Surat An-Naml ayat 17, Surat Al-Isra ayat 88, Surat Al-An’am ayat 112, dan Surat Al-An’am ayat 128.

Uniknya, dari semua ayat ini, semua lafal insun selalu beriringan dengan lafal Al-Jin. Jika diperhatikan ayat-ayat berikut:

1. Di dalam Surat Al-Jin ayat 5, Allah berfirman وَأَنَّا ظَنَنَّا أَنْ لَنْ تَقُولَ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَى اللَّهِ كَذِبًا  

“Dan sesungguhnya kami mengira, bahwa manusia dan jin sekali-kali tidak akan mengatakan perkataan yang dusta terhadap Allah.”

2. Allah berfirman dalam Surat An-Naml ayat 17 وَحُشِرَ لِسُلَيْمَانَ جُنُودُهُ مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ يُوزَعُونَ

Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam barisan).”

3. Allah berfirman di dalam Surat Al-Isra ayat 88 قُلْ لَئِنِ اجْتَمَعَتِ الْإِنْسُ وَالْجِنُّ عَلَىٰ أَنْ يَأْتُوا بِمِثْلِ هَٰذَا الْقُرْآنِ لَا يَأْتُونَ بِمِثْلِهِ وَلَوْ كَانَ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ ظَهِيرًا

Katakanlah, ‘Sungguh jika manusia dan jin berkumpul untuk membuat yang serupa Al Qur’an ini, niscaya mereka tidak akan dapat membuat yang serupa dengan dia, sekalipun sebagian mereka menjadi pembantu bagi sebagian yang lain.”

4. Allah berfirman di dalam Surat Al-An’am ayat 112 وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا ۚ وَلَوْ شَاءَ رَبُّكَ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan (dan jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jika Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan.”

5. Allah berfirman di dalam Surat Al-An’am ayat 128 وَيَوْمَ يَحْشُرُهُمْ جَمِيعًا يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ قَدِ اسْتَكْثَرْتُمْ مِنَ الْإِنْسِ ۖ وَقَالَ أَوْلِيَاؤُهُمْ مِنَ الْإِنْسِ رَبَّنَا اسْتَمْتَعَ بَعْضُنَا بِبَعْضٍ وَبَلَغْنَا أَجَلَنَا الَّذِي أَجَّلْتَ لَنَا ۚ قَالَ النَّارُ مَثْوَاكُمْ خَالِدِينَ فِيهَا إِلَّا مَا شَاءَ اللَّهُ ۗ إِنَّ رَبَّكَ حَكِيمٌ عَلِيمٌ

Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman), ‘Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia,’ lalu berkatalah kawan-kawan meraka dari golongan manusia, ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebahagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebahagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.’ Allah berfirman: ‘Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).’ Sungguh Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.

Hubungan Relasi Ayat

Jika diperhatikan baik-baik, kedua kata ini (الإنس والجن), dipakai secara bersama-sama karena keduanya dianggap sejenis. Dalam bahasa penafsiran oleh para ulama’, kedua makhluk Allah ini sering disebut sebagai الثقلين, yang bermakna dua beban.

Berdasarkan hadits riwayat ‘Ashim bin Hâkim yang termaktub dalam beberapa kitab tafsir, salah satunya adalah Tafsir Yahya bin Salâm juz I halaman 287 disebutkan bahwa:

Maka dibukalah bagi si mayit di sisi kuburnya sebuah pintu, maka melihatia akan tempatnya kelak di neraka, berikut siksa yang sudah disiapkan Allah baginya. Oleh karenanya, seketika wajahnya menjadi gelap dan meratapi kekotoran dirinya. Lalu malaikat memukulnya dengan sekali pukulan yang menghancurkan seluruh tulang belulangnya. Para makhluk mampu mendengar teriakan si mayit kecuali as-tsaqalain, yaitu makhluk golongan jin dan manusia.” (Yahya bin Salâm, Tafsīr Yahya bin Salam, [Tanpa keterangan kota, Maktabah Syâmilah: tanpa tahun], juz I, 287)

Di dalam sebuah hadis riwayat Ahmad juga disebutkan:

Maka datanglah kepada Si Mayit (seorang malaikat) bertanya, ‘Siapa Tuhanmu? Apa agamamu? Siapa Nabimu?’ Lalu Mayit tersebut menjawab, ‘Aku tidak tahu.’ Lalu dikatakan kepadanya, ‘Tidakkah kamu telah melihatnya dan telah membacanya?’ Lalu datanglah seseorang yang buruk wajahnya dan buruk pakaiannya, yang bacin baunya, ia berkata, ‘Nikmatilah olehmu penghinaan yang datang dari Allah serta siksa yang tetap.’ Si Mayit bertanya, ‘Dan kamu, semoga Allah membalas keburukan padamu. Siapa Anda?’ Orang tersebut menjawab, “Aku adalah amalmu yang buruk akibat kamu menunda-nunda untuk taat kepada Allah namun bersegera jika berbuat maksiat kepada-Nya. Maka Allah membalasmu dengan suatu keburukan.’ Selanjutnya malaikat itu memegang sebuah gada (mirzabah) di tangannya yang membuat Si Mayit tercekat (buta, tuli dan bisu). Seandainya benda itu dipukulkan pada sebuah gunung, maka pasti hancurlah ia menjadi debu. Malaikat itu lalu memukulkan mirzabah itu kepada Si Mayit dengan sekali pukulan yang karenanya ia hancur lebur menjadi debu. Kemudian Allah SWT mengembalikannya lagi sebagaimana semula. Lalu dipukul lagi dengan pukulan lain. Si Mayit menjerit dan berteriak dengan jeritan dan teriakan yang bisa didengar oleh semua makluk kecuali as-tsaqalain. Al-Bara’ bin ‘Azib berkata, ‘Lalu dibukakanlah bagi Si Mayit itu sebuah pintu dari api dan ranjang yang terbuat dari api neraka.’” (HR Ahmad, Nomor 578)

Makna dari as-tsaqalain di dalam hadis riwayat Imam Ahmad ini juga menunjuk makna yang sama dengan hadis yang termaktub dalam Kitab Tafsir karya Yahya bin Abdus Salam di atas, yaitu bermakna jin dan manusia.

Pemakaian lafal al-ins dalam Al Qur’an tampaknya lebih menunjuk pada makna jenis dan manusia sebagai nomina kolektif, yaitu makhluk yang suka berkelompok, sehingga condong tidak liar atau tidak biadab.

Makna ini seolah bertolak belakang dengan al-jin yang bersifat metafisik dan identik dengan liar atau bebas. Dengan kata lain, ketika lafal al-ins digunakan dalam Al Qur’an, maka seolah di sana tergambar sebuah peradaban yang dibangun oleh manusia dengan akal dan budinya.

Lafal al-ins juga seolah menunjuk pengertian, bahwa manusia adalah makhluk berbudaya. Wallahu a’lam bis shawâb.

Dua Ayat Al Qur'an Memaparkan Peristiwa Isra Mi'raj

 Isra Mi'raj adalah bagian kedua dari perjalanan yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW dalam waktu satu malam saja. Kejadian ini merupakan salah satu peristiwa penting bagi umat Islam, karena pada peristiwa inilah dia mendapat perintah untuk menunaikan salat lima waktu sehari semalam.

Dua ayat Al-Qur'an yang selalu populer di saat tiba waktu isra mi'raj adalah sebagai berikut:

1. QS. Al Isra’ Ayat 1

سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِير

Artinya: "Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."

2. QS. An Najm Ayat 12-18

أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى. وَلَقَدْ رَآهُ نَزْلَةً أُخْرَى. عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى. عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى. إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى. مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى. لَقَدْ رَأَى مِنْ ءَايَاتِ رَبِّهِ الْكُبْرَى

Artinya: "Maka apakah kamu (musyrikin Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal, (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar."

Bacalah dua ayat di atas di waktu datang peringatan isra dan mi'raj. Semoga kita semua selalu mendapatkan perlindungan dari apa-apa yang diteladani oleh Nabi Muhammad. Dan semoga kita semua kelak mendapatkan syafaat agung Baginda Nabi Muhammad. Amin.

Keberadaan Tuhan Menurut Al Qur'an

  Tentang hal ini dapat kita simak dialog antara Nabi Musa As dengan Fir’aun, Allah SWT berfirman: “Fir’aun berkata: Siapa Tuhan semesta alam itu? Musa menjawab: Yaitu Tuhan Pencipta langit dan bumi dan apa-apa di antara keduanya (itulah Tuhanmu), jika kamu sekalian (orang-orang) yang mempercayai-Nya.

Berkata Fir’aun kepada orang-orang sekelilingnya: Apakah kamu tidak mendengarkan? Musa berkata (pula): Tuhan kamu dan Tuhan nenek-moyang kamu yang dahulu. Fir’aun berkata: Sesungguhnya rasul yang diutus kepada kamu sekalian benar-benar orang gila. Musa berkata: Tuhan yang menguasai timur dan barat dan apa yang ada di antara keduanya (itulah Tuhanmu) jika kamu menggunakan akal” (QS. Asy-Syu’araa, 26:23-28)

Di dalam Al-Qur’an kita akan melihat bahwa wujud Allah yang diyakinkan kepada kita yang pertama melalui fitrah iman dan makhluk ciptaan-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih berganti malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sesungguhnya itu adalah tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan” (QS. Al Baqarah, 2:164).

Demikian pula, Allah SWT menegaskan dalam firman-Nya: “Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri?). Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan)” (QS. Ath Thuur, 52:35-36).

Lebih jelas lagi Allah SWT menjelaskan melalui dialog antara Nabi Musa As dengan Fir’aun. Allah SWT berfirman: ”Berkata Fir’aun: Maka siapakah Tuhanmu berdua, wahai Musa. Musa berkata: Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian Dia memberinya petunjuk” (QS. Thaahaa, 20:49-50).

Inilah beberapa ayat dimana Allah SWT menuntut akal manusia untuk memikirkan penciptaan langit dan bumi dengan segala isinya yang sebenarnya bila akal setiap manusia mau berfikir, maka tidak akan ada yang bisa dilakukan oleh manusia kecuali harus menyatakan bahwa Allah adalah pencipta segalanya.

Salah satu ayat yang layak kita renungkan dalam kehidupan ini untuk lebih mengenal wujud Allah di antaranya dalam firman-Nya: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Mahasuci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka” (QS. Al Imran, 3: 190-191).

Kembali perlu digarisbawahi bahwa secara fitrah, setiap manusia meyakini keberadaan wujud Allah, dan di samping itu melalui firman-firman-Nya Allah mengajak manusia untuk berfikir tentang penciptaan-Nya. Allah yang kita yakini adalah Dia yang Esa yang tidak ada sekutu bagi-Nya. Esa dari segi Dzat, Sifat, dan juga dari segi aturan dan hukum.

Esa dari segi Dzat di antaranya dijelaskan dalam firman-Nya: “Katakanlah: Dia-lah Allah, Yang Mahaesa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tiada pula diperanakkan, dan tidak ada seorang pun yang setara dengan Dia” (QS. Al Ikhlash, 112:1-4).

Kemudian dalam firman-Nya pula Allah SWT menegaskan: “Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Mahaesa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang” (QS. Al Baqarah, 2:163). Lebih rinci lagi Allah SWT menunjukkan bukti-bukti kesalahan kepercayaan orang-orang musyrik, sebagaimana firman-Nya: “Sekiranya ada di langit dan di bumi tuhan-tuhan selain Allah, tentulah keduanya itu telah rusak binasa. Maka, Mahasuci Allah yang mempunyai ’Arsy daripada apa yang mereka sifatkan” (QS. Al Anbiyaa, 21:22).

Demikian pula Allah SWT menegaskan: “Allah tiada mempunyai anak, dan tiada tuhan bersama-Nya, kalau sekiranya demikian niscaya tiap-tiap tuhan membawa makhluk yang diciptakannya dan sebagian dari tuhan-tuhan itu akan mengalahkan sebahagian yang lain. Mahasuci Allah dari yang mereka sifatkan itu” (QS. Al Mu’minuun, 23:91).

Jadi, kita sangat meyakini bahwa yang mengendalikan alam ini hanya Dia, Dia Esa tidak ada yang mendampingi dalam mengendalikan alam semesta alam ini. Sebab kalau ada yang mendampingi maka alam semesta ini akan hancur, yang satu menghendaki bumi berputar, yang satu lagi menghendaki bumi tidak berputar, dan lain sebagainya.

Dia juga Esa dalam Rubbubiyyah, sifatnya sebagai Rabb (dalam hamdallah), sebagai pencipta, pemelihara, dan pendidik. Dia juga Esa dalam segi Uluhiyah, berarti Esa untuk diibadahi, artinya tidak dimungkinkan kita untuk beribadah kepada selain Allah, karena Dia-lah yang menentukan kehidupan kita (iyyaaka na’budu wa iyyaka nasta’iin).

Bukti Tuhan Itu Ada

 Orang beriman adalah orang yang yakin bahwa Allah Ta&"ala adalah Tuhan yang maha Kuasa dan meyakini bahwa Dia adalah Sembahan yang Esa.

Seluruh alam semesta mengakui, membenarkan, percaya dan mengucapkan akan keberadaan Allah Jalla wa&"Azza, Dia berfirman: Berkata rasul-rasul mereka: &"Apakah ada keragu-raguan terhadap Allah, Pencipta langit dan bumi? Dia menyeru kamu untuk memberi ampunan kepadamu dari dosa-dosamu dan menangguhkan (siksaan)mu sampai masa yang ditentukan?&" Mereka berkata: &"Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami juga. Kamu menghendaki untuk menghalang-halangi (membelokkan) kami dari apa yang selalu disembah nenek moyang kami, karena itu datangkanlah kepada kami, bukti yang nyata&" (Q.S. Ibrahim:10)

Engkau akan memuji-Nya dengan karunia dan kenikmatan-Nya, dan engkau butuh kepada-Nya dalam kedua hal itu.

Bagaiaman mungkin diminta bukti akan zat yang menjadi bukti keberadaan segala sesuatu.

Kalau kita ingin memaparkan bukti akan keberadaan Tuhan, maka kita dapatkan di antaranya sebagai berikut:

Bukti fitrah:

Seluruh makhluk difitrahkan untuk beriman kepada Penciptanya, ia tidak akan bergeser dari fitrah ini kecuali orang yang telah ditutup hati dan akalnya oleh Allah. Bukti yang paling nyata bahwa fitrah mengakui keberadaan Allah Ta&"ala adalah sabda Rasulullah ﷺ: &"setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah, lalu kedua orang tuanya menjadikan dia yahudi atau nasrani atau majusi, seperti hewan yang melahirkan hewan (sempurna tanpa cacat) juga, apakah kalian melihat ada cacat padanya?” (H.R.Bukhari)

Setiap makhluk secara fitrah mengakui keEsaan Allah, Ia berfirman: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (Q.S. ar Rum:30),

Ini adalah bukti fitrah tentang keberadaan Allah yang Maha Suci dan Mulia.

Bukti fitrah akan keberadaan Allah lebih kuat dari seluruh bukti selama syaitan belum memalingkannya, oleh karena itu Allah Ta&"ala berfirman: (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu (Q.S. ar Rum:30)

Allah… nama yang digoreskan pada fitrah sehingga tidak butuh bukti yang lebih nyata.

Setelah firman-Nya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah (Q.S. ar Rum:30)

Fitrah yang bersih akan menyaksikan keberadaan Allah dan siapa yang dipalingkan oleh syaitan bias jadi ia dihalangi dari bukti ini sehingga ia merasa butuh kepadanya, jika ia dalam kesulitan, secara spontan dengan fitrahnya ia hadapkan kedua tangan, mata dan hatinya ke langit meminta pertolongan dan bantuan dari Tuhannya.

Bukti dari akal sehat

Bukti yang sangat kuat di antara bukti-bukti akan keberadaan Sang Pencipta adalah bukti dari akal sehat yang tidak dapat dipungkiri oleh seorang pun, di antaranya:

1-Setiap ciptaan pasti ada yang menciptakannya, karena ciptaan-ciptaan tersebut -baik yang lalu maupun yang akan datang- pasti ada penciptanya yang mengadakannya; karena tidak mungkin ia menciptakan dirinya sendiri dan juga tidak mungkin ada secara spontan; mustahil sesuatu menciptakan dirinya sendiri karena sebelumnya ia tidak ada, bagaimana bisa ia menjadi pencipta?!; karena segala kejadian pasti ada yang melakukannya, dan keberadaannya dengan teratur rapih dan indah, tersusun baik dan saling berkaitan, serasi antara sebab dan musababnya antara satu dan yang lainnya sangat tidak mungkin terjadi secara spontanitas; setiap cipataan ada penciptanya, jika ia tidak mungkin ciptaan ini menciptakan dirinya sendiri dan tidak ada secara spontan, maka pasti ada penciptanya, Dialah Allah Tuhan semesta alam, Allah Jalla wa&"Azza telah menyebutkan bukti akal dan pasti ini dalam firman-Nya Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? (Q.S. ath Thur:35)

yaitu: mereka tidak mungkin diciptakan tanpa pencipta dan mereka juga tidak dapat menciptakan dirinya sendiri, maka pasti yang ciptakan mereka adalah Allah yang maha Suci dan maha Tinggi, oleh karena itu ketika Jubair bin Muth&"im -radhiyallahu anhu- mendengarkan Rasulullah ﷺ membaca surah ath Thur dan sampai pada ayat: Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan (diri mereka sendiri)? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu?; sebenarnya mereka tidak meyakini (apa yang mereka katakan). Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Tuhanmu atau merekakah yang berkuasa? (Q.S. ath Thur:35-37)

Pada saat itu Jubair masih sebagai orang musyrik, ia berkata: &"Hampir saja hatiku melayang&" (H.R.Bukhari).

2-Tanda-tanda kebesaran Allah yang tersebar di alam semesta dan ciptaan-Nya, Allah Jalla wa&"Azza berfirman: Katakanlah: &"Perhatikanlah apa yaag ada di langit dan di bumi&" (Q.S. Yunus:101); Karena dengan memperhatikan langit dan bumi akan menjelaskan bahwa Allah adalah Pencipta dan menguatkan Ketuhan-Nya. Ketika seorang Arab badui ditanya: &"Bagaimana engkau mengenal Tuhanmu?&", ia menjawab: &"jejak menunjukkan jalan yang dilewati dan kotoran unta menandakan ada unta, langit memiliki bintang-bintang dan bumi memiliki jalan-jalan luas serta laut memiliki ombak-ombak, Bukankah semua itu membuktikan adanya Zat yang maha Mendengar dan maha Melihat?!

Manusia terhenti di hadapan tirai gaib, tidak mampu menembusnya walau memiliki ilmu pengetahuan yang bersifat materi, hanya iman kepada Allah yang mampu mengatasi kelemahan ini.

3-Keteraturan dan kesempurnaan alam semesta, ini membuktikan bahwa yang mengaturnya Sembahan yang satu, Raja yang satu, Tuhan yang satu, makhluk tidak memiliki Sembahan dan Tuhan selain-Nya, sebagaimana mustahil terdapat dua Tuhan, dua pencipta yang sepadan bagi alam semesta, demikian juga mustahil terdapat dua Sembahan, ilmu tentang adanya dua pencipta yang serupa bagi alam semesta adalah suatu hal yang mustahil, fitrah dan akal sehat menolaknya, dengan demikian adanya dua sembahan tertolak.

Dasar dari syariat:

Seluruh ajaran agama menyatakan adanya Pencipta yang memiliki kesempurnaan ilmu, hikmah dan rahmat-Nya; karena ajaran-ajaran ini pasti ada pembuatnya, dan yang membuat ajaran-ajaran agama ini adalah Allah&"Azza wa Jalla, Ia berfirman: Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa, Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untukmu; karena itu janganlah kamu mengadakan sekutu-sekutu bagi Allah, padahal kamu mengetahui (Q.S. al Baqarah:21-22),

Seluruh kitab suci samawi menyatakan itu.

Bukti dari indera

Bukti yang sangat nampak dan jelas akan adanya Pencipta adalah bukti dari indera yang dapat dirasakan setiap orang yang memiliki pandangan dan pengetahuan; di antaranya:

Atheisme adalah penyakit yang menyerang akal dan cacat dalam pemikiran.

1-Dikabulkannya doa: manusia berdoa kepada Allah&"Azza wa Jalla, ia berseru: &"Wahai Tuhanku..&" ia meminta sesuatu lalu dikabulkan, ini bukti indera akan adanya Tuhan, ia tidak meminta kecuali kepada Allah, dan Allah Ta&"ala mengabulkan permintaannya dan ia saksikan itu dengan mata kepalanya, demikian juga kita telah banyak mendengar tentang hal yang serupa dari orang-orang terdahulu dan di zaman kita bahwa Allah Ta&"ala mengabulkan permintaan mereka, ini adalah realita yang membuktikan berdasarkan indera adanya Pencipta, di dalam al Qur&"an sangat banyak disebutkan hal ini, di antaranya: dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: &"(Ya Tuhanku), sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan Yang Maha Penyayang di antara semua penyayang&". Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu (Q.S. al Anbiya&":83-84)

Dan ayat-ayat lain sangat banyak menyebutkan hal itu

2-Naluri makhluk yang terbimbing kepada apa yang menjadi kelangsungan hidupnya, siapa yang membimbing manusia untuk menyusui dari ibunya ketika ia dilahirkan?! Siapa yang membimbing burung Hud-hud (Hoopoe) hingga ia dapat melihat sumber air dalam tanah dan hewan lain tidak melihatnya?! Dia adalah Allah yang berfirman: Musa berkata: &"Tuhan kami ialah (Tuhan) yang telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, kemudian memberinya petunjuk (Q.S. Thaha:50)

Atheisme adalah penyakit yang menyerang akal, cacat dalam pemikiran, kegelapan di hati dan sesat dalam kehidupan.

3-Mukjizat yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul: mukjizat yang Allah jadikan sebagai penguat bagi para Rasul dan Nabi-Nya, Ia memilih mereka disertai mukjizat dari sekian banyak manusia, Allah mengutus setiap Nabi dengan mukjizat kepada kaumnya untuk menegaskan bahwa misi yang dibawa oleh Nabi tersebut berasal dari sisi Sembahan dan Pencipta yang satu, tidak ada Tuhan dan sembahan selain-Nya.